Lokomotif Uap Langka di Ambarawa Masih Beroperasi, Tiketnya Diburu Saat Libur Panjang

Di Museum Kereta Api Ambarawa, daya tarik utama bukan hanya bangunan dan koleksinya, tetapi juga lokomotif uap yang masih dioperasikan untuk wisata. Banyak pengunjung datang untuk merasakan perjalanan singkat yang menghadirkan suasana lama, lengkap dengan desis uap, peluit lokomotif, dan gerbong kayu yang membawa penumpang menyusuri rel bersejarah.

Pengalaman itu membuat kawasan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tetap ramai didatangi wisatawan. Jalur yang dilalui tidak panjang, tetapi justru di situlah letak pesonanya karena penumpang bisa menikmati perpaduan sejarah perkeretaapian dan pemandangan alam di sekelilingnya.

Perjalanan yang terasa melintasi waktu

Kereta uap di Ambarawa bergerak perlahan dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang dengan jarak sekitar 6 kilometer pulang-pergi. Saat roda besi melintas di atas rel tua, asap hitam dari cerobong dan suara mesin menjadi bagian dari atraksi yang dicari banyak orang.

Bagi sebagian wisatawan, pengalaman itu terasa seperti kembali ke masa lalu. Julian, wisatawan asal Bogota, Kolombia, menyebut momen tersebut seperti melintasi waktu setelah sebelumnya menjelajahi kawasan Candi Borobudur dan Candi Prambanan di Jawa Tengah.

Pemandangan yang ikut menjual pengalaman

Dari jendela gerbong kayu, penumpang dapat melihat sawah, perdesaan, Danau Rawapening, serta perbukitan hijau di kaki Gunung Ungaran. Lanskap inilah yang membuat perjalanan terasa berbeda dari sekadar naik kereta wisata biasa.

Julian menilai bagian paling berkesan justru muncul ketika kereta melewati sawah, perdesaan, dan Danau Rawapening. Suasana itu juga tampak dari antusiasme rombongan wisatawan lain yang memenuhi gerbong kayu di Stasiun Ambarawa.

Ramai saat libur panjang

Keramaian paling terasa pada musim liburan panjang. Banyak keluarga datang sejak pagi, bahkan dini hari, untuk mengantre tiket agar bisa menikmati perjalanan dengan lokomotif uap yang jadwal operasinya tidak setiap hari.

Dinda Rahma datang bersama keluarga besarnya dari Bandung dan menilai usaha itu terbayar. Ia membawa anak-anaknya naik kereta uap setelah mengetahui bahwa pada jadwal reguler perjalanan biasanya menggunakan kereta diesel.

Pada akhir pekan, kereta diesel dibagi dalam tiga jadwal keberangkatan dengan kisaran harga tiket Rp 80.000 hingga Rp 250.000 per orang. Untuk perjalanan dengan lokomotif uap, Dinda membeli tiket seharga Rp 250.000 per orang dan menilai harga itu sepadan dengan pengalaman yang didapat keluarganya.

Museum yang menyimpan jejak panjang perkeretaapian

Selain menjadi wahana wisata, Museum Kereta Api Ambarawa menyimpan 26 lokomotif uap langka. Sebagian di antaranya masih digunakan untuk perjalanan wisata, sementara rangkaian kereta diesel menjadi pendamping dalam operasional yang berlangsung di kawasan itu.

Stasiun Ambarawa juga dikenal sebagai Stasiun Willem I. Di tempat ini, pengunjung bisa melihat jejak sejarah perkeretaapian yang masih terawat sambil menikmati perjalanan dengan lokomotif uap.

Kawasan tersebut menyimpan sejarah panjang karena Stasiun Willem I dengan jaringan rel hingga Secang, Magelang, pernah menjadi urat nadi pengangkutan hasil bumi sekaligus jalur penting bagi kepentingan militer pada masa kolonial. Stasiun Ambarawa sendiri disebut masih bertahan sejak berdiri pada 1873.

Di tengah modernisasi transportasi, Ambarawa tetap menawarkan kombinasi wisata, sejarah, dan lanskap alam dalam satu perjalanan singkat. Itulah yang membuat desis uap dan peluit lokomotif tua masih terus menarik perhatian wisatawan hingga kini.

Source: www.kompas.id

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait