Lonjakan Belanja AI Indonesia Menuju Rp 100 Triliun, Tertinggal Tapi Paling Cepat Mengejar

Author: Redaksi Android62

Proyeksi belanja kecerdasan buatan di Indonesia mencapai Rp100 triliun pada 2030 menjadi sinyal bahwa pasar ini sudah bergerak dari tahap awal menuju peluang bisnis yang jauh lebih besar. Angka tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap AI tidak lagi sebatas pembahasan teknologi, melainkan sudah masuk ke arah pemakaian nyata di banyak sektor.

Di saat adopsinya masih tertinggal dibanding sejumlah negara lain, Indonesia justru mencatat laju pertumbuhan yang paling tinggi. Kondisi itu membuat pasar dalam negeri terlihat kecil dari sisi pemakaian saat ini, tetapi sangat menjanjikan dari sisi perkembangan ke depan.

Pertumbuhan yang paling kencang

VP IT Digital Strategy & Performance Telkom, Jokoadi Wibowo, menilai AI secara global sudah terbukti sebagai teknologi yang akan terus bertahan dan berkembang. Ia menyebut adopsi AI di banyak negara menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan tahunan yang konsisten berada di level dua digit.

Menurut Jokoadi, Indonesia memang belum berada di posisi terdepan dalam adopsi. Namun dari sisi pertumbuhan, Indonesia justru berada di jalur paling cepat dibanding negara lain.

“Indonesia sendiri memang masih sedikit tertinggal dari sisi adopsi, tetapi growth rate kita justru yang tertinggi dibanding negara lain,” ujarnya dalam Tech & Telco Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Pasar yang masih muda, tetapi ruangnya besar

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar AI nasional masih berada di fase awal. Meski begitu, ruang untuk tumbuh masih sangat lebar karena penggunaan teknologi ini terus bertambah seiring dorongan transformasi digital di berbagai sektor.

Kebutuhan itu datang dari banyak arah, mulai dari layanan publik sampai industri. AI pun makin dipandang sebagai alat yang mendukung efisiensi dan percepatan digitalisasi, bukan lagi sekadar tren masa depan.

Bagi pengguna, hal ini berarti AI berpotensi semakin banyak masuk ke proses kerja dan layanan sehari-hari. Sementara bagi pelaku industri teknologi, pasar ini membuka peluang untuk solusi, layanan, dan pengembangan berbasis AI.

Proyeksi Rp100 triliun dan arti di baliknya

Nilai belanja AI yang diperkirakan tembus Rp100 triliun pada 2030 memberi gambaran seberapa besar peluang ekonomi yang terbuka di Indonesia. Angka itu juga menjadi penanda bahwa implementasi AI makin mendesak di tengah kebutuhan percepatan transformasi digital.

Dalam konteks bisnis, proyeksi tersebut menunjukkan pasar yang berpotensi semakin aktif. Itu mencakup permintaan terhadap produk, layanan, dan pengembangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan di berbagai lini.

Di sisi lain, besarnya proyeksi itu menegaskan bahwa AI mulai diposisikan sebagai kebutuhan nyata. Perannya tidak lagi terbatas pada wacana, tetapi mengarah pada pemakaian yang lebih luas di dalam aktivitas operasional dan pelayanan.

Peluang mengejar ketertinggalan

Pertumbuhan adopsi AI secara global memberi ruang bagi Indonesia untuk mengejar jarak yang masih ada. Pola pertumbuhan tahunan yang stabil di level dua digit menandakan bahwa teknologi ini masih memiliki tenaga besar untuk berkembang di banyak negara.

Jika laju pertumbuhan tinggi di Indonesia terus berlanjut, pasar domestik bisa berkembang lebih cepat. Dari sana, belanja AI nasional berpeluang mendekati target yang diproyeksikan Telkom.

Namun proyeksi besar itu juga menuntut kesiapan pelaku industri dan lembaga di dalam negeri. Tantangan terbesarnya adalah mengubah ketertarikan terhadap AI menjadi penerapan yang benar-benar berjalan di berbagai sektor.

Di tengah fase penyesuaian yang masih berlangsung, arah pasar mulai terlihat lebih jelas. Belanja AI yang diprediksi mencapai Rp100 triliun menandai bahwa Indonesia sedang masuk ke fase yang lebih serius dalam pemanfaatan kecerdasan buatan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru