Ekonomi Inggris kembali tertekan setelah mencatat kontraksi 0,1% pada April, ketika lonjakan harga minyak dunia mulai menambah beban bisnis dan rumah tangga. Guncangan energi itu muncul di tengah perang Amerika Serikat melawan Iran yang ikut mengguncang pasar dan menekan biaya hidup.
Tekanan paling cepat terasa dari energi, terutama setelah Selat Hormuz ditutup sejak perang Iran pecah. Jalur penting itu sempat mendorong harga minyak mentah dunia naik tajam, dengan Brent sebagai patokan internasional bahkan menyentuh US$ 120 per barel sebelum berfluktuasi kembali.
Dampaknya merambat ke Inggris melalui kenaikan harga bensin dan solar. Pada saat yang sama, rencana kenaikan batas harga energi pada Juli membuat banyak rumah tangga menghadapi beban tambahan yang berpotensi menekan daya beli lebih jauh.
Bisnis menghadapi biaya lebih tinggi dan permintaan melemah
Bagi dunia usaha, situasinya menjadi serba sulit karena ongkos operasional naik sementara konsumen mulai menahan belanja. Banyak perusahaan kesulitan meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada pelanggan tanpa mengorbankan penjualan.
Kepala ekonom KPMG UK, Yael Selfin, menilai kontraksi April lebih menggambarkan prospek pertumbuhan ke depan. Menurut dia, angka bulanan itu menunjukkan perekonomian Inggris masih rapuh, dengan tekanan pada konsumen dan bisnis yang kemungkinan berlanjut selama beberapa bulan.
Ketika rumah tangga memilih menambah tabungan dan mengurangi pembelian, aktivitas ekonomi ikut melambat. Dalam kondisi seperti itu, margin keuntungan perusahaan bisa ikut tertekan karena biaya naik lebih cepat daripada pendapatan.
Risiko pelemahan masih membayangi beberapa bulan ke depan
Kontraksi bulanan pada April menjadi yang pertama bagi Inggris sejak Agustus 2025. Meski begitu, sejumlah ekonom masih melihat peluang pemulihan jika tekanan biaya dan gangguan pasokan mulai mereda.
Selfin mengatakan konsumen kini bersiap menghadapi tagihan energi yang lebih tinggi. Sikap hati-hati itu mendorong perilaku belanja yang lebih lemah dan ikut menekan sektor barang maupun jasa.
Para analis menilai Bank of England kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan di tengah kondisi yang belum stabil. Kebijakan hati-hati ini mencerminkan kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi masih dapat berlangsung lebih lama.
Dengan harga minyak yang bergejolak, biaya energi yang meningkat, dan permintaan domestik yang melemah, pemulihan Inggris masih sangat bergantung pada cepat atau lambatnya tekanan global mereda. Untuk sementara, kontraksi 0,1% menjadi sinyal bahwa ekonomi terbesar kedua di Eropa itu masih mudah terguncang oleh perubahan pasar internasional.







