DBD kini tidak lagi bisa dipandang sebagai penyakit yang hanya mengintai anak-anak. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya, sementara pola lonjakannya juga berubah menjadi lebih cepat.
Situasi itu membuat pencegahan menjadi semakin penting, apalagi penyakit ini dapat muncul sepanjang tahun. Perubahan cuaca, kenaikan suhu, dan mobilitas masyarakat yang tinggi ikut mempercepat penyebaran dengue di berbagai kelompok usia.
Ancaman yang juga berat bagi orang dewasa
Anggapan bahwa DBD terutama menyerang anak-anak masih cukup kuat di masyarakat, padahal risiko pada orang dewasa juga besar. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, menegaskan bahwa banyak pasien dewasa harus dirawat inap karena dengue.
Dampaknya tidak ringan karena penyakit ini dapat mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, dan produktivitas keluarga. Kondisinya juga bisa lebih berat bila pasien memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lain.
Anak tetap kelompok yang perlu diawasi ketat
Meski risiko pada dewasa meningkat, anak-anak tetap termasuk kelompok yang rentan mengalami kondisi berat. Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa perjalanan penyakit pada anak sering sulit diprediksi.
Gejala awal seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, atau muntah dapat berkembang cepat. Dalam situasi tertentu, perburukan bisa memicu perdarahan hebat, syok, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Data yang disampaikan menunjukkan sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun. Namun, proporsi kematian terbesar justru terjadi pada usia 5–14 tahun, sehingga pencegahan pada anak tetap harus mendapat perhatian serius.
Beban kesehatan dan biaya yang terus naik
Lonjakan kasus DBD tidak hanya terasa di ruang perawatan, tetapi juga menekan sistem pembiayaan kesehatan. Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan total pembiayaan sekitar Rp3 triliun.
Angka itu menunjukkan bahwa DBD bukan sekadar persoalan medis individu. Penyakit ini juga memberi beban pada keluarga dan ekonomi nasional, sehingga langkah pencegahan tidak bisa terus ditunda.
Pencegahan perlu dilakukan lebih dari satu cara
Pengendalian lingkungan tetap menjadi dasar utama untuk menekan tempat berkembang biaknya nyamuk. Kebiasaan 3M Plus masih relevan sebagai langkah penting dalam pencegahan DBD.
Di saat yang sama, perlindungan tambahan juga mulai dipandang sebagai bagian dari pendekatan yang lebih komprehensif. Imunisasi dengue disebut sebagai salah satu opsi pencegahan yang dapat dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Prof. Hartono juga menekankan bahwa tenaga kesehatan memegang peran penting dalam membantu masyarakat memahami pilihan pencegahan yang tersedia. Imunisasi dengue kini disebut direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan terbaru BPOM.
Edukasi dan akses layanan ikut diperkuat
Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 dimanfaatkan PT Takeda Innovative Medicines dan Halodoc untuk memperkuat edukasi serta akses layanan pencegahan DBD. Kolaborasi itu mencakup edukasi untuk tenaga kesehatan, kampanye publik digital, dan akses konsultasi dokter.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius hingga mengancam jiwa. Ia juga menegaskan belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan dengue, sehingga penanganan masih berfokus pada pengelolaan gejala.
Takeda menyatakan komitmennya mendukung target menuju “Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030” melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kerja sama lintas sektor. Sementara itu, Halodoc menyoroti pentingnya kemudahan akses terhadap edukasi dan layanan kesehatan yang tepercaya.
CEO dan Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebut akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal IV 2025. Kenaikan itu menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai mencari langkah pencegahan lebih proaktif sebelum terkena dengue.
Source: www.suara.com