Lorikeet Biru yang Hilang Seabad Muncul Lagi di Pulau Buru, Begini Fakta Temuannya

Setelah sekitar 100 tahun tanpa catatan pertemuan lapangan yang lengkap, blue-fronted lorikeet akhirnya terlihat lagi di Pulau Buru. Temuan ini menjadi kabar penting karena burung langka tersebut selama ini dikenal sangat jarang muncul dan hanya tercatat dari sedikit bukti keberadaan.

Pada April 2026, tim ekspedisi yang menyusuri wilayah Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, berhasil melihat dua ekor burung itu secara langsung. Momen tersebut menutup penantian panjang para pengamat yang selama ini hanya berpegang pada catatan lama dan satu foto pendukung.

Burung dengan penampilan yang mengecoh

Walau namanya mengandung kata blue-fronted, burung ini justru tidak tampak dominan biru. Tubuhnya berwarna hijau limau terang dengan paruh oranye, sehingga identifikasinya tidak langsung mudah saat pertama kali melintas.

Direktur Pencarian Burung Hilang, John C. Mittermeier, mengatakan ia sempat melihat dua burung kecil terbang ke pohon di dekatnya. Setelah mengamati lewat teropong, ia menyadari salah satunya adalah blue-fronted lorikeet.

Burung pertama yang terlihat sempat luput dari kamera karena terbang terlalu cepat. Namun beberapa hari kemudian, lorikeet lain muncul lagi dan berhasil dipotret, sehingga foto baru itu menjadi dokumentasi pertama sejak 2014.

Jejak lama yang kembali terhubung

Spesies ini pertama kali dideskripsikan dari tujuh spesimen pada 1920-an. Setelah itu, keberadaannya nyaris hanya hidup dalam catatan lama sampai sebuah foto yang diambil Craig Robson dalam tur Birdquest pada 2014 memberi bukti tambahan.

Meski demikian, penampakan pada April 2026 menjadi pertemuan lapangan yang jauh lebih kuat karena dilakukan langsung di habitatnya. Ekspedisi tersebut juga merekam suara burung itu, meski jumlah pasti individu yang masih bertahan di alam liar belum dapat dipastikan.

Ancaman dari habitat yang menyempit

Koordinator Maluku di Burung Indonesia, Benny A. Siregar, menilai tantangan utama bagi kelangsungan hidup lorikeet ini datang dari deforestisasi dan aktivitas pertambangan. Ia menambahkan bahwa catatan penampakan yang sangat jarang menunjukkan spesies ini kemungkinan bergantung pada habitat yang terbatas.

Temuan di Pulau Buru memperlihatkan bahwa spesies langka masih bisa bertahan di lokasi terpencil. Namun, temuan itu juga menegaskan betapa rapuhnya hutan yang tersisa dan betapa pentingnya perlindungan habitat bagi satwa endemik.

Pemandu dan pemimpin tur Birdtour Asia, Sumaraja, berharap lebih banyak orang dapat melihat dan mempelajari burung-burung ini. Ia juga berharap penemuan tersebut mendorong kepedulian yang lebih besar untuk menjaga hutan yang masih tersisa di Pulau Buru.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait