Episode 9 My Royal Nemesis memberi lapisan makna yang lebih dalam lewat istilah 첫 사랑니, yang secara harfiah berarti “gigi bungsu pertama”. Pilihan judul itu membuat sakit gigi Cha Se Gye tidak berhenti sebagai persoalan medis, tetapi langsung terbaca sebagai penanda emosi yang berkaitan dengan cinta pertama.
Makna itu menguat karena penerjemah menafsirkannya sebagai kalimat “Itulah cinta pertama bagimu”. Dengan begitu, rasa nyeri yang dialami Cha Se Gye terasa sengaja diarahkan untuk menyambungkan luka fisik dengan perasaan lama yang belum tuntas.
Adegan ketika Cha Se Gye menghancurkan permen manis pemberian Shin Seo Ri dengan gigi gerahamnya juga menjadi titik penting. Dari momen singkat itu, cerita bergerak menuju pemeriksaan dokter gigi, lalu mengarah pada diagnosis impaksi gigi bungsu yang cukup serius hingga harus segera dioperasi.
Impaksi gigi bungsu sendiri terjadi saat gigi geraham ketiga tumbuh tidak normal karena ruang yang minim atau ada struktur lain yang menghalanginya. Dalam drama, kondisi ini dibuat terasa keras dampaknya karena rasa sakitnya sampai membuat Cha Se Gye mengeluarkan darah.
Sakit yang membuka sisi rapuh
Pemilihan gangguan gigi sebagai simbol terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konflik yang muncul tidak hadir dalam bentuk yang jauh atau abstrak, melainkan lewat rasa sakit sederhana yang langsung bisa dirasakan penonton.
Di titik ini, Cha Se Gye diperlihatkan bukan sebagai tokoh yang selalu kuat. Ia justru tampak rapuh, dan dari situlah emosi cerita mulai bergerak lebih dalam.
Rasa sakit fisik itu juga memberi bobot baru pada hubungan Cha Se Gye dan Shin Seo Ri. Ketika keduanya berusaha menghindari pengulangan tragedi lama, penderitaan yang muncul pada Cha Se Gye seolah menegaskan bahwa beban masa lalu belum benar-benar selesai.
“Gigi cinta” dan makna yang dibawa
Dalam bahasa Korea, gigi bungsu disebut 사랑니 atau sarangni, yang berarti gigi cinta. Sebutan itu berkaitan dengan waktu tumbuhnya gigi bungsu, yakni pada akhir remaja hingga awal 20-an, masa yang sering dikaitkan dengan cinta pertama.
My Royal Nemesis memanfaatkan asosiasi tersebut untuk memperkuat lapisan simbolik cerita. Sakit gigi yang datang tiba-tiba diposisikan sebagai padanan dari luka emosional yang ikut terasa bersama ingatan tentang cinta pertama.
Karena itu, impaksi gigi bungsu tidak berdiri sebagai masalah medis semata. Ia berubah menjadi isyarat bahwa ada perasaan lama yang belum selesai dan masih menekan tokohnya dari balik alur utama.
Jejak masa lalu yang belum tuntas
Hubungan simbol itu semakin kuat ketika diketahui bahwa Shin Seo Ri menyimpan jiwa Kang Dan Sim, tokoh yang melakukan time traveling dari era Joseon. Sementara itu, Cha Se Gye adalah reinkarnasi dari cinta pertama Kang Dan Sim di masa lalu, yakni Pangeran Lee Hyeon.
Kaitan tersebut membuat rasa sakit Cha Se Gye terasa membawa beban sejarah yang lebih besar. Drama ini menghubungkan kondisi fisik tokohnya dengan kisah tragis Pangeran Lee Hyeon dan Kang Dan Sim yang kandas karena keangkuhan Raja Anjong.
Raja Anjong disebut memanfaatkan kelemahan Kang Dan Sim sebagai dayang istana untuk memberi kesaksian palsu demi menghancurkan Pangeran Lee Hyeon. Dalam kerangka itu, gigi bungsu yang tidak bisa tumbuh lepas karena penghalang menjadi simbol yang sejalan dengan cinta pertama yang juga tak sempat berkembang.
Dengan susunan seperti itu, My Royal Nemesis menempatkan gangguan gigi sebagai tanda emosi yang lebih besar. Rasa sakit Cha Se Gye akhirnya menjadi bagian dari cerita tentang perasaan lama, luka yang belum selesai, dan hubungan yang berusaha tidak mengulang akhir yang sama.
Source: www.idntimes.com






