Lukisan Gua Di Sulawesi Ini Jadi Yang Tertua, Mengubah Peta Awal Seni Manusia

Jejak seni cadas di Indonesia kembali menarik perhatian karena Gua Leang Tedongnge di Sulawesi Selatan menyimpan lukisan yang disebut tertua sejauh ini. Gambar babi kutil Sulawesi di dinding gua itu diperkirakan berusia 45.500 tahun dan masih memperlihatkan detail yang jelas.

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa manusia purba sudah mampu menuangkan pengamatan terhadap alam ke dalam bentuk visual sejak sangat awal. Jejak semacam ini juga memperlihatkan bahwa ekspresi simbolik sudah hadir jauh sebelum bahasa lisan dikenal luas.

Lukisan di Leang Tedongnge dibuat dengan pigmen oker merah tua dari tanah liat. Ukurannya 136 x 54 cm dan menampilkan seekor babi dengan kutil di wajah yang menyerupai tanduk, ciri khas babi dewasa jantan, disertai dua cetakan tangan di bagian atas punggungnya.

Maxime Aubert, salah satu penulis laporan dalam jurnal Science Advances, menyebut para pembuatnya sebagai orang-orang yang sepenuhnya modern. Usia lukisan itu ditentukan dari deposit kalsit di atas gambar, lalu dianalisis memakai penanggalan isotop seri Uranium, menurut BBC.

Warisan seni gua dari berbagai benua

Indonesia bukan satu-satunya wilayah yang menyimpan seni cadas penting. Di Spanyol, Gua Altamira di Santillana del Mar, Cantabria, menjadi salah satu situs paling terkenal karena kualitas visual lukisannya yang sangat kuat.

Gua paleolitik itu panjangnya 270 meter dan diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1985. Lukisannya diperkirakan dibuat 35.600 tahun lalu, dengan gambar bison, kuda, dan cetakan tangan dari arang serta oker.

Struktur Altamira terbagi menjadi pintu masuk, ruang besar atau ruang polikrom, dan galeri. Di area pintu masuk ditemukan abu perapian, alat batu, serta sisa tulang binatang.

Prancis juga memiliki situs ikonik lewat Gua Lascaux yang kerap dijuluki “kapel Sistina prasejarah”. Lukisannya diperkirakan berusia lebih dari 17.000 tahun dan dibuat jauh dari pintu masuk, sehingga hanya bisa dilihat dengan penerangan lilin.

Salah satu bagian paling dikenal di sana adalah Great Hall of the Bulls yang menampilkan rusa, kuda, dan banteng. Hampir 2.000 lukisan di Lascaux terbagi dalam kategori hewan, manusia, dan tanda abstrak, dengan kuda sebagai hewan yang paling dominan.

Catatan dari Asia dan Afrika

Di India, Gua Bhimbetka menyimpan lukisan prasejarah berwarna putih, merah, dan kadang kuning atau hijau. Situs ini ditemukan oleh arkeolog Dr. Vishnu Wakankar, sedangkan usia lukisan tertuanya diperkirakan sekitar 12.000 tahun.

Tema di Bhimbetka sangat beragam, mulai dari gajah, buaya, harimau, babi hutan, banteng, kijang, badak, monyet, merak, dan kadal. Ada juga adegan perburuan, tarian, dan penyamaran yang bertahan karena kawasan itu terlindungi hutan dan vegetasi yang lebat.

Somalia memiliki kompleks Laas Geel yang memuat lukisan berusia 11.000 hingga 5.000 tahun. Gambar-gambarnya menampilkan manusia, anjing peliharaan, jerapah, hewan ternak berjubah dekoratif, dan sapi dengan hiasan leher berupa plastron.

Kondisi lukisan di Laas Geel masih kuat dan garisnya tetap jelas karena terlindungi granit. Perlindungan alami itu membuat warna dan bentuk gambar tetap mudah dikenali hingga kini.

Jejak panjang di Eropa Timur dan Amerika Selatan

Di Bulgaria, Gua Magura menjadi salah satu gua terbesar di barat laut negara itu dengan lebih dari 700 lukisan yang dibuat dari kotoran kelelawar. Lukisan-lukisan ini berasal dari rentang panjang, mulai dari 8.000-6.000 SM hingga 3.000-1.200 SM.

Subjek di Magura mencakup binatang, siluet perempuan, lelaki yang berburu dan menari, tanaman, peralatan, serta orang yang memakai topeng. Jejaknya memperlihatkan perubahan dari zaman Paleolitik hingga Zaman Perunggu Awal.

Koridor gua itu memiliki panjang gabungan sekitar 2,5 kilometer dan suhu permanen 12 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi bagian dari karakter unik situs yang menyimpan catatan visual lintas ribuan tahun.

Di Brasil, Taman Nasional Serra da Capivara menyimpan lebih dari 30.000 lukisan dalam empat gaya. Warnanya merah, kuning, putih, dan abu-abu, dengan banyak adegan perburuan, ritual, hewan, dan pohon.

Penelitian menunjukkan kawasan itu pernah dihuni pemburu, pengumpul, lalu masyarakat petani dan pembuat keramik. Taman nasional tersebut berdiri sejak 1979 dengan luas 129.140 hektar.

Rangkaian temuan dari Sulawesi, Eropa, Afrika, hingga Amerika Selatan menunjukkan bahwa lukisan gua bukan sekadar gambar kuno. Seni cadas menjadi catatan awal manusia tentang alam, ritual, dan kehidupan sehari-hari yang bertahan lintas zaman.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait