Microwave memang praktis, tetapi panas yang tidak merata membuat sejumlah makanan justru lebih berisiko saat dipanaskan ulang. Dalam beberapa kasus, masalahnya bukan hanya soal rasa dan tekstur, melainkan juga kemungkinan bakteri bertahan hidup atau senyawa tertentu berubah setelah terkena panas tinggi.
Karena itu, tidak semua sisa makanan layak masuk microwave begitu saja. Sejumlah jenis makanan perlu penanganan lebih hati-hati, terutama jika sebelumnya sudah lama berada pada suhu ruang atau mengandung bahan yang sensitif terhadap pemanasan ulang.
Daging olahan dan ayam masuk kelompok yang perlu diwaspadai
Daging olahan seperti sosis, nugget, ham, dan smoked beef sebaiknya tidak menjadi pilihan utama untuk dipanaskan ulang di microwave. Sejumlah penelitian menunjukkan pemanasan ulang pada produk ini dapat memicu perubahan senyawa kimia, terutama karena kandungan pengawet dan lemak berpotensi mengalami oksidasi saat terkena panas tinggi.
Sebuah studi PubMed Central pada 2015 menemukan sosis yang dipanaskan dengan microwave menghasilkan kadar cholesterol oxidation products atau COPs paling tinggi dibandingkan metode memasak lain. Senyawa ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, peradangan, dan penumpukan plak pada pembuluh arteri.
Ayam juga memerlukan perhatian khusus karena distribusi panas microwave kerap tidak merata. Bagian tertentu bisa tetap berada pada suhu yang memungkinkan bakteri bertahan hidup, terutama jika potongan ayam cukup tebal atau disimpan dan dipanaskan berulang kali.
Pemanasan berulang pada ayam juga dapat memengaruhi struktur protein, sehingga rasa dan teksturnya menurun. Pada kondisi ini, kompor atau oven sering dianggap lebih aman karena panasnya lebih merata.
Nasi dan kentang sangat bergantung pada cara penyimpanan
Nasi menjadi salah satu makanan yang paling sering dipanaskan ulang karena praktis, tetapi risikonya tidak kecil jika penyimpanannya keliru. Jika nasi dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang sebelum masuk lemari pendingin, bakteri seperti Bacillus cereus dapat berkembang dan menghasilkan racun yang sulit hilang meski nasi dipanaskan kembali.
Microwave juga tidak selalu mampu memanaskan seluruh bagian nasi secara merata. Karena itu, nasi sebaiknya segera didinginkan setelah matang dan disimpan di lemari pendingin sebelum dihangatkan lagi.
Kentang rebus, kentang panggang, dan mashed potato juga perlu diperhatikan dengan serius. Kentang yang sudah dimasak lalu dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang dapat menjadi tempat berkembangnya Clostridium botulinum yang menghasilkan racun botulinum dan bisa menyebabkan kelumpuhan otot.
Saat dipanaskan ulang dengan microwave, tidak semua bagian kentang tentu mencapai suhu yang cukup untuk menurunkan risiko tersebut. Selain itu, teksturnya bisa menjadi lebih kering dan kurang nikmat setelah dipanaskan berulang kali.
Sayuran hijau dan ASI punya risiko yang sering tidak disadari
Bayam, kangkung, dan sawi mengandung nitrat alami. Pada dasarnya, nitrat tidak berbahaya, tetapi paparan panas tinggi saat pemanasan ulang dapat mengubahnya menjadi nitrit.
Menurut penelitian PubMed Central, nitrit berpotensi membentuk nitrosamin, senyawa yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan sifat karsinogenik atau risiko kanker. Selain itu, tekstur sayuran berdaun hijau juga mudah rusak saat terkena panas tinggi dari microwave.
Karena alasan itu, sayuran hijau lebih baik segera dikonsumsi setelah dimasak. Langkah ini membantu menjaga kualitas, rasa, dan kandungan gizinya tetap optimal.
Bagi orang tua, microwave sering dianggap sebagai cara tercepat untuk menghangatkan ASI atau susu formula. Namun banyak ahli kesehatan tidak merekomendasikan cara ini karena microwave dapat membentuk titik panas atau hot spots yang tidak terlihat.
Botol mungkin terasa hangat secara keseluruhan, tetapi sebagian cairan di dalamnya bisa jauh lebih panas. Kondisi ini berisiko menyebabkan luka pada mulut atau tenggorokan bayi.
Panas yang terlalu tinggi juga dapat merusak nutrisi penting dan antibodi dalam ASI yang berperan mendukung sistem kekebalan tubuh. Mengacu pada penelitian Sharron Bransburg-Zabary, ASI sebaiknya tidak dipanaskan melebihi 40°C agar kualitasnya tetap terjaga.
Microwave tetap berguna untuk banyak kebutuhan dapur, tetapi pemakaian yang tidak tepat justru bisa menurunkan mutu makanan dan menambah risiko kesehatan. Memahami jenis makanan yang sebaiknya dihindari membantu menjaga keamanan makanan di rumah tanpa mengorbankan kehati-hatian.
