Musikal Senja Teduh Pelita memberi pengalaman yang berbeda bagi Maliq & D’Essentials karena lagu-lagu mereka diolah ulang menjadi cerita panggung dengan tafsir baru. Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka cara pandang lain terhadap karya yang telah mereka ciptakan selama bertahun-tahun.
Pementasan perdana kolaborasi Jakarta Movin, Maliq & D’Essentials, dan Indonesia Kaya itu digelar pada Jumat, 3 Juli 2026, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukan musikal tersebut masih berlangsung hingga 12 Juli 2026 di lokasi yang sama.
Karya lama yang terasa baru
Angga Puradiredja mengaku tersentuh setelah menyaksikan pertunjukan itu. Ia menilai pengolahan lagu-lagu Maliq ke dalam kisah teater terasa menarik karena memberi apresiasi baru terhadap perjalanan band yang hampir 24 tahun berkarya.
“Ini adalah sebuah mahakarya bagi kita, bagi Maliq,” kata Angga seusai pertunjukan di TIM, Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026. Ia juga menyebut pengalaman tersebut memberi energi baru bagi Maliq untuk kembali berkarya pada tahun depan.
Angga berharap Senja Teduh Pelita dapat menghadirkan kebahagiaan bagi penonton. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para pemain, kru, dan orang tua yang telah mendukung anak-anak mereka tampil dalam pertunjukan itu.
Widi melihat lagu-lagu Maliq dari sudut yang berbeda
Widi Puradiredja mengaku merasakan emosi yang kuat selama hampir dua jam menonton musikal tersebut. Baginya, pertunjukan itu mengingatkan kembali pada perjalanan panjang band dan proses kreatif di balik lagu-lagu yang mereka buat.
Ia juga mengaku tak menyangka bisa menjadi penonton dari musikal yang mengangkat karya Maliq sendiri. Dari situ, ia melihat bagaimana lagu-lagu band itu tampil dengan wajah yang berbeda di luar panggung musik.
Menurut Widi, seluruh lagu Maliq lahir dari kejujuran. Ia menegaskan bahwa saat proses di studio, band tidak terpaku pada ukuran komersial atau idealis, melainkan pada karya yang jujur dan menyenangkan bagi para personel.
Kejujuran itu, kata Widi, justru membuat karya mereka mudah diberi tafsir baru oleh kreator lain. Karena itu, ia menilai pengalaman melihat lagu-lagu Maliq dihidupkan lewat musikal ini sebagai pelajaran yang berharga.
Fiksi ilmiah tentang masa depan bumi
Senja Teduh Pelita hadir sebagai pertunjukan musikal fiksi ilmiah yang berlatar masa depan. Pementasan ini memadukan musik, teater, dan pesan reflektif tentang masa depan bumi.
Cerita berpusat pada dunia yang diguncang krisis akibat perubahan iklim, pengelolaan energi yang tidak berkelanjutan, pembangunan yang merusak, serta peperangan antarnegara. Akibatnya, populasi manusia menyusut tajam dan sumber daya seperti tanah subur serta air bersih menjadi makin langka.
Dalam kondisi itu, seluruh orang dewasa tiba-tiba menghilang dan meninggalkan anak-anak menghadapi warisan dunia mereka. Dari sana, kisah bergerak mengikuti perjalanan mereka mencari harapan dan membangun masa depan yang lebih baik.
Bagi Maliq & D’Essentials, pertemuan antara musik, cerita, dan visual di panggung membuat lagu-lagu mereka menemukan ruang interpretasi baru. Widi pun berharap karya-karya positif seperti ini terus mendapat dukungan karena Indonesia membutuhkan energi positif.
Source: lifestyle.bisnis.com






