Manfaat Tumbler Baru Terasa Setelah Dipakai Berulang, Peneliti Temukan Patokannya 120 Kali

Author: Redaksi Android62

Manfaat ekologis dari tumbler atau gelas minum reusable ternyata tidak langsung muncul hanya karena wadah itu bisa dipakai berulang. Penelitian dari tim International Degree Program in Climate Change and Sustainable Development, National Taiwan University, menunjukkan bahwa keunggulan lingkungan baru terasa setelah pemakaian yang sangat sering.

Dalam studi tersebut, gelas berbahan polypropylene atau PP baru tercatat lebih unggul dibanding kemasan sekali pakai setelah dipakai sekitar 120 kali. Angka itu menjadi pengingat bahwa produk reusable tetap membawa jejak produksi di awal, sehingga pemakaiannya harus cukup intensif agar dampaknya benar-benar tertutupi.

Peneliti utama Yan-Ruei Huang bersama Prof. Yu-Kai Liao menekankan bahwa status “bisa dipakai kembali” tidak otomatis berarti lebih ramah lingkungan. Menurut mereka, frekuensi pemakaian adalah faktor yang paling menentukan dalam melihat apakah sebuah wadah benar-benar memberi manfaat ekologis.

Logikanya sederhana, produksi tumbler atau gelas reusable membutuhkan energi dan material yang lebih besar sejak awal. Karena itu, beban lingkungan dari proses pembuatan baru dianggap “terbayar” jika produk tersebut terus dipakai dalam jangka panjang.

Sebaliknya, bila sebuah tumbler hanya dipakai sebentar lalu rusak, hilang, atau tidak lagi digunakan, dampaknya bisa justru lebih besar daripada kemasan sekali pakai yang hendak digantikan. Situasi ini membuat kepemilikan produk reusable saja tidak cukup untuk menjamin pengurangan dampak lingkungan.

Temuan tersebut juga memberi gambaran baru tentang kebiasaan konsumen yang makin akrab dengan produk ramah lingkungan. Banyak orang membeli botol atau gelas sendiri dengan harapan langkah itu langsung menurunkan beban lingkungan, padahal hasilnya sangat bergantung pada seberapa konsisten produk itu dipakai.

Artinya, tumbler baru benar-benar bekerja sesuai fungsinya saat menjadi wadah utama yang digunakan terus-menerus. Jika hanya sesekali dibawa, manfaat ekologisnya tidak akan maksimal meski secara konsep produk itu memang bisa dipakai berulang.

Penelitian itu juga menyoroti bahwa efektivitas sistem reusable tidak hanya ditentukan oleh bahan produk dan jumlah pemakaian. Ada faktor lain yang ikut memengaruhi, seperti pencucian, distribusi, pengumpulan kembali, dan perilaku konsumen.

Di antara faktor tersebut, pencucian menjadi salah satu yang penting. Bila proses mencuci membutuhkan air dan energi yang tinggi, keuntungan lingkungan dari penggunaan ulang bisa berkurang cukup besar.

Di Indonesia, tren membawa botol minum sendiri terus naik seiring kampanye pengurangan sampah plastik. Tumbler kini tidak hanya dipandang sebagai alat praktis, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang dinilai lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Survei Jakpat 2024 mencatat 56 persen Gen Z di Indonesia membawa botol minum sendiri sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan. Angka itu menunjukkan bahwa kesadaran memakai wadah pribadi sudah cukup kuat, terutama di kalangan konsumen muda.

Sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman juga ikut mendorong kebiasaan tersebut. Sebagian bahkan memberikan diskon bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri.

Meski begitu, penelitian ini menegaskan bahwa perubahan perilaku tidak berhenti pada membeli tumbler. Dampak lingkungan yang nyata baru terasa ketika kebiasaan itu dipertahankan secara disiplin, dipakai berulang kali, dan didukung sistem pengelolaan yang efisien.

Hal ini menjadi relevan karena sampah kemasan sekali pakai masih menjadi persoalan besar. Plastik, gelas minuman, dan limbah makanan masih mendominasi sampah perkotaan di Indonesia dan belum dikelola secara optimal.

Produk reusable tetap punya peran penting dalam mengurangi sampah tersebut. Namun, manfaat itu tidak datang dari labelnya semata, melainkan dari intensitas penggunaan dan cara sistem di sekitarnya bekerja.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru