MAP Ketat di Semarang Menguji Lifter Muda yang Siap Masuk Radar Pelatnas

Author: Redaksi Android62

Kejuaraan Angkat Besi Remaja dan Junior 2026 di Semarang tidak sekadar mempertemukan lifter muda dalam perebutan medali. PB PABSI memakai ketentuan Minimal Angkatan Pertama atau MAP untuk menyaring atlet yang dinilai siap bersaing dan dipantau menuju Pelatnas.

Aturan itu menetapkan batas minimum snatch serta clean and jerk pada percobaan pertama di setiap kelas. Standarnya berbeda menurut kelompok usia, jenis kelamin, dan kelas berat badan sehingga peserta harus datang dengan kesiapan angkatan yang terukur.

Ambang Tertinggi Ada di Kelas Berat

Pada kelompok junior putra, syarat terbesar berlaku untuk kelas di atas 75 kg. Lifter di kelas tersebut harus membuka pertandingan dengan snatch minimal 95 kg dan clean and jerk 115 kg.

Kelas Junior Putra Snatch Clean and Jerk
60 kg 75 kg 95 kg
65 kg 80 kg 100 kg
70 kg 85 kg 105 kg
75 kg 90 kg 110 kg
+75 kg 95 kg 115 kg

Standar junior putri juga meningkat secara bertahap dari kelas 49 kg hingga di atas 61 kg. Pada kelas tertinggi, MAP mencapai 70 kg untuk snatch dan 90 kg untuk clean and jerk.

Kelas Junior Putri Snatch Clean and Jerk
49 kg 45 kg 55 kg
53 kg 50 kg 60 kg
57 kg 55 kg 70 kg
61 kg 60 kg 80 kg
+61 kg 70 kg 90 kg

Persaingan Remaja Ikut Dibatasi Standar

Untuk remaja putra, kelas 56 kg dibuka dengan MAP 55 kg pada snatch dan 70 kg pada clean and jerk. Angka itu naik hingga 85 kg dan 105 kg bagi peserta kelas di atas 70 kg.

Kelas Remaja Putra Snatch Clean and Jerk
56 kg 55 kg 70 kg
60 kg 65 kg 80 kg
65 kg 75 kg 90 kg
70 kg 80 kg 100 kg
+70 kg 85 kg 105 kg

Kelompok remaja putri memiliki batas awal 30 kg snatch dan 40 kg clean and jerk untuk kelas 45 kg. Di kelas di atas 57 kg, batasnya menjadi 50 kg pada snatch serta 60 kg pada clean and jerk.

Kelas Remaja Putri Snatch Clean and Jerk
45 kg 30 kg 40 kg
49 kg 35 kg 45 kg
53 kg 40 kg 50 kg
57 kg 45 kg 55 kg
+57 kg 50 kg 60 kg

Sekjen PB PABSI Djoko Pramono menjelaskan bahwa MAP diterapkan agar kompetisi berjalan lebih kompetitif. Ketentuan tersebut juga disesuaikan dengan perubahan kelas pertandingan yang ditetapkan Federasi Angkat Besi Dunia atau IWF.

“Diharapkan dari kejurnas ini akan muncul lifter-lifter muda potensial yang kelak bisa dipanggil ke Pelatnas,” kata Djoko Pramono. Menurutnya, kejuaraan ini juga menjadi sarana memantau pembinaan lifter remaja dan junior di daerah.

297 Lifter dan Ofisial Ambil Bagian

Kejuaraan digelar di Hotel Khas Semarang, Jawa Tengah, pada 22-24 Juli. Sebanyak 297 lifter dan ofisial dari 23 daerah mengikuti persaingan kelompok remaja dan junior putra maupun putri.

Peserta terdiri atas 105 lifter remaja, 115 lifter junior, serta 77 ofisial. Selain medali per kelas, PB PABSI juga menyiapkan penghargaan untuk lifter terbaik putra dan putri pada kedua kelompok usia.

Pupuk Indonesia turut mendukung pembinaan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan. SVP TJSL Pupuk Indonesia Frans Adisuranta Ginting menyatakan dukungan itu diharapkan dapat membantu PABSI melahirkan lebih banyak atlet berprestasi.

Menurut informasi sport.detik.com, hasil persaingan di Semarang akan menjadi salah satu pijakan untuk melihat kesiapan talenta daerah. Lifter yang memenuhi standar dan tampil menonjol berpeluang masuk pemantauan menuju pemusatan latihan nasional.

Source: sport.detik.com
Berita Terbaru