Kontroversi video pemberian iPhone di Danau Ho Guom, Hanoi, tidak lagi berhenti pada soal satu klip viral. Sorotan justru bergeser ke cara konten itu dibuat, setelah kreator TikTok Master Sanker mengakui bahwa sebagian kontennya memang direncanakan.
Pengakuan itu membuat banyak penonton menilai ulang video yang selama ini terlihat spontan. Bagi sebagian orang, masalah utamanya bukan hanya ada atau tidaknya bayaran, melainkan kesan alami yang dibangun di depan kamera.
Dalam klarifikasi di Instagram pribadinya, Master Sanker mengatakan perempuan yang muncul dalam video di Vietnam bukan korban rekayasa. Ia menyebut perempuan itu lebih dulu menghubunginya untuk ikut syuting dan menerima bayaran 100.000 VND.
Master Sanker juga meminta publik menanyakan langsung kepada perempuan tersebut jika ingin memverifikasi ceritanya. Ia menegaskan bahwa timnya merekam sekitar 10 orang berbeda di area yang sama selama pengambilan gambar di Vietnam.
Menurut penjelasannya, proses syuting dilakukan dengan terus mengajak orang lain bergabung setelah ada peserta yang ikut. Ia juga menegaskan bahwa semua peserta memang dibayar untuk tampil dalam video.
Ia menyampaikan bahwa tidak ada pihak yang dieksploitasi dalam pembuatan konten itu. “Kami membayar mereka untuk berpartisipasi dalam video tersebut. Tidak ada yang dieksploitasi; semua orang menerima uang,” ujarnya.
Kecurigaan publik membesar setelah video yang beredar pada 19 Mei menampilkan momen saat Master Sanker memberi iPhone kepada seorang gadis di jalanan Vietnam. Namun, setelah kamera bergeser, gadis itu terlihat mengembalikan ponsel kepada pria lain dan menerima pembayaran karena ikut dalam pembuatan film.
Adegan tersebut memicu pertanyaan besar tentang keaslian rangkaian video “memberikan iPhone kepada orang asing” yang telah mengumpulkan jutaan penonton. Banyak warganet kemudian mempertanyakan apakah konten itu benar-benar spontan atau sudah disusun sedemikian rupa agar terlihat natural.
Sejumlah pengguna media sosial menyatakan kecewa dan memilih berhenti mengikuti akun Master Sanker. Mereka merasa tertipu karena video yang tampak seperti kejadian dadakan ternyata memiliki unsur perencanaan di baliknya.
Di sisi lain, ada pula pandangan yang menilai video pembagian uang atau hadiah di jalanan bukan hal baru di media sosial. Meski begitu, dalam kasus ini kecurigaan tetap kuat karena narasi spontan yang muncul di depan kamera dianggap sangat memengaruhi reaksi penonton.
Master Sanker menanggapi kritik itu dengan mengatakan bahwa publik terlalu fokus pada video iPhone dan mengabaikan kegiatan amal lain yang pernah ia lakukan saat siaran langsung di beberapa negara. Ia menyebut aktivitas itu berlangsung di Vietnam, Thailand, Filipina, Kamboja, dan Laos.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya dulu kerap membeli makanan, minuman, pakaian, serta membantu banyak orang saat siaran langsung. Menurutnya, seluruh kegiatan itu juga direkam dan diunggah ke media sosial.
Dalam pernyataannya, ia mengingatkan publik agar tidak mudah percaya pada semua yang terlihat di internet. Ia menilai banyak konten memang dibuat untuk menarik perhatian dan tidak selalu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.
Sebelum klarifikasi terbaru itu, pada 20 Mei Master Sanker juga sempat menjawab pertanyaan dari akun media sosial lain mengenai keaslian video-videonya. Saat itu, ia mengatakan sebagian besar tindakan bermanfaat dalam videonya memang asli, tetapi beberapa konten memang telah direncanakan.
Di tengah perdebatan yang belum reda, ia masih membatasi komentar di TikTok. Langkah itu membuat diskusi soal video pemberian hadiah yang selama ini menjadi ciri khasnya terus berlanjut dan memicu penilaian ulang dari publik.
Master Sanker sendiri adalah kreator asal Israel bernama asli Eidan Sanker, lahir pada 1995. Saat ini ia memiliki 19,4 juta pengikut di Instagram, 9,1 juta pelanggan di YouTube, dan 9,2 juta pengikut di TikTok, dengan pendapatan utama dari iklan, konten media sosial, dan bisnis produknya sendiri.






