Maudy Ayunda Soroti Luka Emosional Saat Menstruasi, Perempuan Sering Tak Didengar

Komentar kecil, candaan, atau respons tergesa saat perempuan menstruasi bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat. Maudy Ayunda menyoroti hal itu ketika hadir dalam peluncuran kampanye Comfort Made Together dari Laurier di Silk Bistro Menteng, Jakarta Pusat.

Sebagai Brand Ambassador baru Laurier, Maudy menekankan bahwa pengalaman menstruasi tidak berhenti pada rasa tidak nyaman secara fisik. Di banyak situasi, justru cara lingkungan merespons perasaan perempuan yang membuat pengalaman tersebut terasa lebih berat.

Stigma yang membuat menstruasi terasa tabu

Di sejumlah lingkungan, menstruasi masih dianggap sesuatu yang perlu dibicarakan pelan-pelan, bahkan cenderung disembunyikan. Padahal, kondisi ini merupakan proses biologis yang dialami hampir separuh populasi dunia setiap bulan.

Maudy melihat stigma seperti ini masih membuat banyak perempuan enggan terbuka saat sedang mengalami menstruasi. Akibatnya, ruang aman untuk berbagi pengalaman sering tidak benar-benar hadir karena rasa canggung dari orang-orang di sekitar.

Psikiatris dan Medical Expert, dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, juga menegaskan bahwa menstruasi adalah hal yang normal. Ia menyebut perempuan tetap bisa melewati masa-masa sulit itu dan menjalankan aktivitas secara profesional.

Masalahnya bukan hanya tubuh

Bagi banyak perempuan, ketidaknyamanan saat menstruasi tidak selalu datang dari tubuh saja. Respons orang lain, seperti komentar yang meremehkan atau candaan yang dianggap ringan, juga bisa memunculkan luka emosional.

Salah satu anggapan yang masih sering muncul adalah bahwa perempuan yang sedang menstruasi pasti lebih sensitif. Ucapan seperti “jangan dideketin” memang terdengar sepele, tetapi bisa membuat perempuan merasa kecil dan tidak divalidasi.

Maudy menegaskan bahwa perasaan perempuan tidak menjadi kurang penting hanya karena sedang menstruasi. Ia bahkan menekankan bahwa “period is a real thing,” sebagai penegasan bahwa pengalaman ini nyata dan layak dihormati.

Kadang yang dibutuhkan bukan solusi cepat

Saat perempuan bercerita tentang kondisi menstruasinya, respons yang muncul sering kali berupa saran instan. Orang di sekitar bisa langsung menyuruh minum ini, melakukan itu, atau segera mengoreksi keluhan yang disampaikan.

Padahal, tidak semua orang membutuhkan jawaban seketika. Dalam banyak situasi, yang lebih dibutuhkan adalah ruang untuk didengar tanpa langsung dihakimi atau diarahkan terlalu cepat.

Maudy menilai ada kekuatan dalam bertanya sebelum memberi tanggapan. Pertanyaan sederhana bisa membuka empati, sementara respons yang terlalu cepat justru kerap menutup percakapan.

Dukungan sederhana sering paling berarti

Pendekatan yang lebih membantu sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Kalimat seperti “kamu lagi butuh apa?” dapat memberi kesempatan bagi perempuan untuk menjelaskan kebutuhannya dengan nyaman.

Cara ini juga membuat orang di sekitar tidak langsung berasumsi bahwa semua keluhan harus diselesaikan dengan saran. Dukungan yang tepat bisa berupa bantuan praktis, waktu istirahat, atau sekadar ruang tanpa komentar tambahan.

Pembicaraan soal menstruasi memang masih menghadapi banyak hambatan sosial, tetapi respons yang lebih manusiawi dapat mengubah pengalaman perempuan. Saat menstruasi diperlakukan sebagai bagian normal dari hidup, perhatian yang lebih peka dan tidak menggurui menjadi langkah sederhana yang dampaknya besar.

Source: www.idntimes.com

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait