Mazda EZ-60 hadir dengan pendekatan yang cukup menarik karena tidak berdiri sebagai proyek yang sepenuhnya mandiri. SUV ini lahir dari kolaborasi Mazda dan Changan, dengan basis yang diketahui berasal dari Deepal S07 sebelum mendapat sentuhan desain khas Mazda.
Kehadirannya di markas besar Changan di Chongqing, Cina, ikut memperjelas posisi model ini dalam kerja sama dua merek tersebut. Dari situ terlihat bahwa EZ-60 bukan hanya sekadar produk baru Mazda, tetapi juga hasil pengembangan yang memadukan fondasi teknis Changan dengan identitas visual Jepang yang lebih premium.
Desain luar yang terasa berani
Dari luar, Mazda EZ-60 tampil dengan bahasa desain yang tetap membawa ciri Kodo, namun dibentuk dengan pendekatan yang lebih modern dan bersih. Perpaduan itu membuat SUV ini tidak sekadar terlihat futuristis, tetapi juga tetap menjaga karakter Mazda yang kuat.
Beberapa detail eksterior langsung membuatnya menonjol. Logo Mazda dibuat menyala, lampu depan dipisah dengan DRL berbasis LED, lalu gagang pintu disembunyikan agar permukaan bodi tampak lebih rapi.
Mazda juga memakai kamera sebagai pengganti spion konvensional. Kombinasi detail tersebut memberi kesan teknologi tinggi tanpa membuat tampilannya kehilangan kesan elegan.
Kabin minimalis, tetapi tetap terasa premium
Masuk ke interior, kesan bersih langsung terlihat dari tata letak kabin yang sangat minimalis. Tombol fisik dibuat sesedikit mungkin, sementara layar hiburan membentang dari area tengah ke sisi kanan dasbor.
Setir dual spoke ikut memperkuat kesan modern di dalam kabin. Dasbornya pun dibuat sederhana agar ruang terasa lebih lapang secara visual, sebuah pendekatan yang bisa menarik bagi pembeli yang menyukai kabin tidak terlalu ramai.
Meski demikian, jejak basis Deepal S07 masih terasa. Salah satu yang tampak adalah absennya layar instrument cluster, sementara tombol pengaturan AC justru ditempatkan di konsol tengah baris kedua.
Dimensi dan fondasi teknis yang mendukung posisinya
Secara ukuran, Mazda EZ-60 diperkirakan memiliki dimensi yang mirip dengan Deepal S07 karena berbagi basis yang sama. Data yang disebut menunjukkan panjang 4.750 mm, lebar 1.930 mm, tinggi 1.625 mm, dan jarak sumbu roda 2.900 mm.
Proporsi itu menempatkan EZ-60 di kelas SUV menengah. Ukuran seperti ini umumnya memberi keseimbangan antara ruang kabin yang lebih lega dan bodi yang masih nyaman dipakai harian.
Hal tersebut juga menunjukkan arah pengembangan mobil ini. Mazda tidak membangunnya dari nol, melainkan memanfaatkan platform yang sudah matang dari Changan lalu menyempurnakannya agar sesuai dengan standar visual dan citra merek Mazda.
Opsi penggerak yang disiapkan Mazda
Pada versi listrik murni, Mazda EZ-60 disebut memakai motor listrik tunggal di roda belakang. Tersedia dua pilihan daya, dan salah satunya menghasilkan 255 hp dengan baterai 77,94 kWh.
Dengan paket itu, jarak tempuh yang diklaim mencapai 600 km berdasarkan siklus CLTC. Angka tersebut menunjukkan bahwa Mazda tidak hanya mengejar tampilan premium, tetapi juga mencoba menawarkan kemampuan jelajah yang kompetitif untuk SUV listrik menengah.
Selain versi listrik penuh, Mazda juga menyiapkan varian Range Extender. Varian ini memakai mesin 1.500 cc empat silinder sebagai pendukung, sementara motor listrik tetap menjadi penggerak utama.
Kolaborasi yang membentuk identitas EZ-60
Kehadiran Mazda EZ-60 di markas Changan memberi gambaran yang cukup jelas tentang arah kerja sama kedua perusahaan. Mobil ini membawa identitas Mazda yang tetap terlihat kuat, tetapi fondasi teknis dari Changan membuat pengembangannya terasa lebih efisien dan matang.
Dari eksterior yang rapi hingga kabin minimalis dan pilihan penggerak yang beragam, EZ-60 memperlihatkan bagaimana sebuah kerja sama lintas merek bisa menghasilkan SUV dengan aura premium yang lebih kuat dari dugaan. Model ini bukan hanya menonjol secara visual, tetapi juga disiapkan dengan basis teknis yang mendukung posisinya di segmen SUV menengah.
Source: otodriver.com






