Sakura dikenal bukan hanya karena tampilannya yang lembut dan memikat, tetapi juga karena bunganya bertahan dalam waktu yang sangat singkat. Justru pada durasi mekarnya yang pendek itulah sakura mendapat tempat istimewa dalam budaya Jepang, karena keindahan yang cepat berlalu dianggap layak dihargai lebih dalam.
Makna itu membuat sakura lebih dari sekadar bunga musim semi. Di tengah masyarakat Jepang, sakura sering dipahami sebagai simbol kebersamaan, ketepatan menikmati momen, dan penghormatan pada sesuatu yang tidak berlangsung lama.
Mekar singkat, tetapi meninggalkan kesan panjang
Umur mekarnya sakura umumnya hanya sekitar 7 hingga 10 hari sejak kuncup terbuka sampai kelopak mulai gugur. Lama tidaknya bunga bertahan juga sangat dipengaruhi cuaca, karena hujan lebat dan angin kencang dapat mempercepat rontoknya kelopak.
Karena sifatnya yang singkat, puncak mekarnya sakura kerap dianggap sebagai momen yang harus dinikmati pada saat yang tepat. Setelah bunga gugur, daun muda segera tumbuh, dan pohon yang tersisa hanya daun disebut hazakura.
Tidak hanya satu jenis, sakura punya banyak varietas
Banyak orang mengira sakura hanya memiliki satu bentuk, padahal jenisnya cukup beragam. Someiyoshino menjadi varietas yang paling populer dan tersebar luas di Jepang, meski asalnya merupakan hasil persilangan dari akhir zaman Edo.
Sebelum someiyoshino dikenal luas, masyarakat lebih dulu akrab dengan yamazakura yang tumbuh alami di pegunungan seperti Pegunungan Yoshino. Jenis ini memiliki warna putih dan merah muda yang lembut, sementara edohigan dikenal berumur panjang dan sering memiliki ranting menjuntai yang disebut shidarezakura.
Ada pula hikanzakura yang cocok di wilayah lebih hangat seperti Okinawa dan Tiongkok selatan. Jenis ini berbunga lebih awal, sekitar Januari atau Februari, sedangkan fuyuzakura muncul di akhir tahun, yakni antara November hingga Desember.
Bagian dari tradisi dan ruang hidup masyarakat
Di Jepang, sakura tidak hanya hadir sebagai pemandangan musim semi. Pohon ini juga melekat pada budaya, kuliner, dan hubungan antarnegara, sehingga posisinya jauh melampaui fungsi tanaman hias biasa.
Salah satu tradisi yang paling erat dengan sakura adalah hanami atau ohanami. Kegiatan ini dilakukan dengan piknik dan makan bersama di bawah pohon sakura sambil menyambut datangnya musim semi.
Hanami juga menekankan etika menjaga ruang publik. Pengunjung dilarang memetik bunga, menarik ranting, atau menginjak akar, dan sampah pun harus dibawa pulang masing-masing.
Di beberapa taman, aturan tambahan juga diterapkan agar suasana tetap tertib. Ada area yang melarang barbekyu, membatasi minuman beralkohol, dan menetapkan jam malam.
Bisa diolah, tetapi tidak dikonsumsi sembarangan
Meski sakura khas Jepang umumnya merupakan tanaman hias dan tidak menghasilkan buah, bunga serta daunnya dapat diolah menjadi makanan setelah diawetkan dengan garam atau cuka. Hasil olahan itu memiliki aroma lembut dengan rasa yang menyerupai kacang almond.
Beberapa olahan yang dikenal luas antara lain sakuramochi, yaitu kue beras ketan berisi pasta kacang merah yang dibungkus daun sakura, dan sakurayu, minuman teh dari bunga sakura yang diasinkan.
Namun, bunga sakura tidak disarankan dikonsumsi mentah. Artikel referensi menyebutkan bahwa bunga ini mengandung zat alami yang dapat berubah menjadi racun saat dicerna, sehingga hanya aman dikonsumsi dalam jumlah kecil setelah melalui pengawetan atau pengeringan.
Pernah menjadi tanda persahabatan antarnegara
Di luar budaya, sakura juga pernah masuk ke ranah diplomasi. Pada 1912, Jepang memberikan ribuan pohon sakura kepada Amerika Serikat sebagai hadiah persahabatan.
Pemberian itu kemudian melahirkan National Cherry Blossom Festival di Washington D.C. Amerika Serikat membalas pada 1915 dengan mengirim pohon Dogwood berbunga ke Jepang sebagai tanda terima kasih, dan pertukaran ini menunjukkan bagaimana sakura membawa pesan damai yang kuat.
Dari mekarnya yang hanya sebentar hingga perannya dalam tradisi, kuliner, dan hubungan antarnegara, sakura terus dipandang sebagai bunga yang menyimpan makna lebih dalam daripada sekadar keindahan musim semi.
Source: www.idntimes.com






