Menu Rp20 Ribuan, Tedja Coffee Ubah Kedai Bandung Jadi Ruang Komunitas dan Kerja

Dengan harga produk mulai dari Rp20 ribuan, Tedja Coffee mencoba menarik lebih banyak pengunjung tanpa membuat pengalaman minum kopi terasa mahal. Strategi itu tidak berdiri sendiri, karena brand lokal ini juga menyiapkan gerai sebagai ruang yang nyaman untuk bekerja, berkumpul, dan mengikuti aktivitas komunitas.

Langkah tersebut terlihat dari pilihan lokasi gerai di kawasan Jalan Saparua, Bandung. Area ini dekat dengan aktivitas olahraga dan ruang berkumpul, sehingga pengunjung bisa datang untuk minum kopi lalu melanjutkan kegiatan lain dalam waktu yang lebih lama.

CEO Tedja Coffee, Putra Ilham, menyebut sasaran utama mereka adalah Gen Z. Meski begitu, gerai Tedja Coffee tidak hanya ramai oleh kelompok tersebut karena milenial, profesional, hingga komunitas bisnis internasional juga aktif memanfaatkan tempat itu.

“Segmentasi kami memang Gen Z, tapi milenial dan profesional juga banyak. Bahkan komunitas bisnis internasional cukup aktif di sini,” ujar Putra, Sabtu (25/4/2026).

Pola kunjungan itu menunjukkan bahwa kedai kopi kini tidak lagi sekadar tempat membeli minuman. Bagi Tedja Coffee, fungsi gerai dibangun seperti basecamp yang bisa dipakai untuk bekerja, bersosialisasi, sampai menggelar agenda bersama.

Komunitas jadi penggerak

Tedja Coffee tidak hanya mengandalkan penjualan harian dari menu minuman. Perusahaan ini juga mendorong pertumbuhan lewat aktivitas komunitas seperti olahraga, event, dan gathering yang memberi nilai tambah bagi bisnis.

Gerai yang mampu menampung hingga 150 orang dalam satu acara menjadi salah satu modal penting. Kapasitas itu membuka peluang pemasukan di luar transaksi biasa dan membuat outlet tetap hidup lewat aktivitas yang berulang.

Pendekatan tersebut sejalan dengan perilaku konsumen muda yang mencari pengalaman, bukan hanya produk. Karena itu, suasana gerai dan interaksi sosial ikut menjadi bagian dari daya tarik utama Tedja Coffee.

Menu sehat dan inovasi rasa

Dari sisi produk, Tedja Coffee menonjolkan menu yang dekat dengan gaya hidup sehat. Setiap produk dilengkapi informasi kalori sehingga konsumen bisa memilih minuman yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Inovasi menu juga dipakai untuk menjaga diferensiasi. Beberapa varian seperti Power Latte yang mengandung protein, serta menu Dirty Latte, Mont Blanc, dan Tiger Boom, disiapkan untuk menjangkau segmen tertentu sekaligus mempertahankan daya saing.

Strategi ini menunjukkan bahwa pembeda dalam bisnis kopi tidak selalu datang dari harga. Komposisi produk, cara penyajian, dan kecocokan dengan tren konsumsi sama pentingnya dalam membangun perhatian pelanggan.

Rantai pasok dan kanal pemasaran

Di balik gerai, Tedja Coffee membangun hubungan dengan sekitar 50 petani kopi. Dari jumlah tersebut, 15 petani berasal dari Jawa Barat, sehingga kualitas bahan baku bisa dijaga sekaligus memberi dampak ekonomi di sektor hulu.

Untuk pemasaran, Tedja Coffee mengandalkan Instagram dan TikTok sebagai ruang interaksi dengan pelanggan. Identitas komunitas juga diperkuat lewat “Warga Teja” sebagai bentuk loyalitas berbasis keanggotaan.

Di Bandung, Tedja Coffee sudah mengoperasikan tujuh gerai. Ekspansinya dimulai lebih dulu dari wilayah Bandung Timur seperti Margahayu dan Antapani, lalu bergerak bertahap ke pusat kota termasuk Saparua.

Menjaga bisnis tetap relevan

Putra Ilham menilai tantangan terbesar di industri makanan dan minuman ada pada keberlanjutan usaha. Menurut dia, banyak bisnis gagal bertahan karena tidak punya perencanaan jangka panjang dan tidak mampu membangun komunitas pelanggan yang kuat.

“Bisnis ini harus terus inovasi dan peka terhadap kebutuhan konsumen. Komunitas dan kualitas SDM jadi kunci utama agar bisa bertahan,” katanya.

Dengan harga awal Rp20 ribuan, menu yang menonjolkan sisi sehat, dan ruang yang ramah komunitas, Tedja Coffee memperlihatkan cara berbeda dalam membaca pasar kopi Bandung. Model ini membuat gerai tampil sebagai tempat minum kopi, bekerja, dan bertemu komunitas dalam satu ruang yang sama.

Berita Terkait