Merek China Mulai Mengejar Hybrid, Jepang Masih Memimpin Tapi Tekanannya Makin Besar

Merek China kini makin serius mengejar segmen hybrid dan PHEV, dua kelas yang selama ini masih menjadi lahan kuat pabrikan Jepang. Di Indonesia, penjualan PHEV bahkan disebut melonjak ratusan persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan pasar mulai memberi ruang lebih besar untuk teknologi plug-in hybrid.

Perubahan arah itu penting karena pasar mobil ramah lingkungan tidak lagi bertumpu pada mobil listrik murni. Produsen asal China melihat ada celah besar yang belum sepenuhnya mereka kuasai, sementara Jepang tetap bertahan berkat posisi yang sudah lebih dulu mapan.

Teknologi PHEV dan hybrid jadi arena baru

Di Indonesia, model PHEV yang beredar saat ini banyak datang dari merek seperti Chery dan Jaecoo. Kehadiran mereka memberi pijakan awal bagi merek China untuk memperluas pengaruh di segmen elektrifikasi lain, tidak hanya di mobil listrik baterai.

Secara global, langkah yang sama juga terlihat. Merek China berupaya masuk lebih agresif ke pasar PHEV, meski mereka masih harus berhadapan dengan merek Jepang yang memegang pangsa terbesar di segmen tersebut.

SegmenMerek ChinaPerebutan Pasar
PHEVChery, JaecooMasih didominasi merek Jepang
HybridGeely, Chery, Changan AutomobileJepang masih sangat kuat

Modal teknologi yang dipakai untuk mengejar rival

Geely dan Chery sudah mengembangkan sejumlah mobil PHEV yang dipasarkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu model yang paling menonjol adalah Chery Tiggo 8 CSH, yang disebut sebagai model terlaris di pasar mobil PHEV di Indonesia sampai saat ini.

Di segmen hybrid, pendekatan yang dibawa juga berbeda-beda. Geely memakai teknologi i-HEV dengan efisiensi thermal 48,41 persen, sedangkan Chery mengandalkan sistem hybrid Kunpeng Tianqing pada Tiggo 9 dengan efisiensi 48,57 persen.

Changan Automobile turut masuk lewat Bluecore Super Engine. Mesin ini dikenal dengan sistem injeksi langsung yang menjadi salah satu daya tarik teknisnya.

Harga masih menjadi kartu utama

Di tengah persaingan teknologi, keunggulan harga tetap menjadi senjata besar merek China. Salah satu alasan utamanya adalah mereka memiliki pemasok komponen sendiri sehingga tidak terlalu bergantung pada pihak luar.

Ketersediaan baterai dari produsen seperti Gotion juga membantu menekan biaya produksi. Dengan pola seperti ini, mereka bisa menawarkan model yang cukup kompetitif tanpa membuat banderol naik terlalu tinggi.

Strategi serupa sebelumnya sudah terlihat di pasar mobil listrik, dan kini mulai dibawa ke PHEV serta hybrid. Tujuannya jelas, yakni membuat produk mereka lebih mudah diterima konsumen yang masih sensitif terhadap harga.

Jepang tetap jadi lawan paling berat

Toyota dan merek Jepang lain masih memegang posisi kuat karena lebih dulu bermain di segmen hybrid. Mereka juga punya lini produk yang jauh lebih beragam, dari SUV dan MPV hingga sedan dan hatchback.

Keragaman itu membuat pilihan konsumen jauh lebih luas. Namun, merek China dinilai punya modal penting untuk mengejar, karena mereka terus mengembangkan teknologi sendiri sambil menawarkan harga yang lebih kompetitif.

Langkah berikutnya mulai disiapkan

Chery disebut tidak berhenti di PHEV dan hybrid. Pabrikan itu juga tengah menambah REEV atau range-extended electric vehicle, segmen yang ditujukan untuk negara dengan infrastruktur pengisian daya baterai yang masih terbatas.

REEV menarik karena mampu menempuh jarak sangat jauh, bahkan dalam banyak kasus bisa melaju lebih dari 1.000 km dengan kombinasi mesin bensin dan motor listrik. Langkah ini juga menunjukkan persaingan antarmerek China di kendaraan elektrifikasi semakin serius.

Changan sudah lebih dulu memiliki sejumlah model seperti Deepal S05, sehingga tekanan untuk terus memperluas lini produk ikut meningkat. Di Indonesia sendiri, merek China sudah kuat di pasar PHEV dan BEV, tetapi belum dominan di mobil hybrid, dan celah itu kini menjadi target berikutnya.

Source: ridertua.com

Berita Terkait