Mesin Konvensional Masih Kuasai 75 Persen Pasar, Astra Pertahankan Target 50 Persen di Tengah Serbuan EVChina dan Korea

Author: Redaksi Android62

PT Astra International Tbk masih menargetkan pangsa pasar otomotif nasional di kisaran 50 persen meski tekanan dari merek kendaraan listrik asal China dan Korea Selatan semakin terasa. Di tengah perubahan industri yang cepat, perusahaan ini memilih tetap hadir di banyak segmen agar tidak kehilangan basis konsumen yang selama ini menopang bisnis otomotifnya.

Pilihan itu muncul karena pasar Indonesia belum bergerak seragam ke arah elektrifikasi. Astra melihat kebutuhan konsumen di dalam negeri masih beragam, sehingga kendaraan listrik belum bisa menjadi satu-satunya jawaban untuk seluruh wilayah dan seluruh jenis pengguna.

Pasar konvensional masih dominan

Direktur Astra Gidion Hasan menyebut sekitar 75 persen pasar otomotif saat ini masih dikuasai kendaraan bermesin konvensional. Angka tersebut menunjukkan bahwa kendaraan berbahan bakar konvensional masih memegang peran besar dalam penjualan nasional.

Bagi banyak konsumen, fungsi dan keandalan tetap menjadi pertimbangan utama. Karena itu, mesin konvensional masih relevan untuk mobilitas harian maupun kebutuhan kerja di berbagai daerah.

Elektrifikasi tumbuh, tetapi belum merata

Meski begitu, kendaraan listrik tetap menunjukkan pertumbuhan, terutama di Jabodetabek. Gidion mengatakan kontribusinya sudah berada di atas 10 persen, namun sebarannya belum menjangkau banyak daerah di luar wilayah ibu kota.

Kondisi ini membuat pasar kendaraan listrik masih terkonsentrasi di kawasan tertentu. Dukungan infrastruktur dan daya beli yang lebih kuat menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Hybrid lebih mudah diterima di luar Jakarta

Di luar wilayah perkotaan besar, Astra melihat kendaraan hybrid punya potensi penerimaan yang lebih luas. Konsumen di banyak daerah cenderung lebih mempertimbangkan efisiensi, keterjangkauan, dan kemudahan penggunaan saat memilih kendaraan.

Karakter itu membuat hybrid menjadi pilihan peralihan bagi konsumen yang mulai tertarik pada teknologi baru. Kendaraan jenis ini dinilai cocok untuk pasar yang belum siap sepenuhnya pindah ke kendaraan listrik murni.

Strategi multi-pathway untuk menjangkau semua wilayah

Presiden Direktur Astra Rudy menegaskan bahwa setiap wilayah memiliki kebutuhan yang berbeda. Kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung dinilai lebih siap menerima kendaraan listrik karena infrastruktur pengisian daya serta daya beli masyarakat lebih mendukung.

Sementara itu, wilayah semi-urban masih sangat sensitif pada harga dan fungsi kendaraan dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, Astra menjalankan strategi multi-pathway dengan menawarkan BEV, HEV, dan ICE sekaligus agar bisa tetap melayani kebutuhan konsumen yang beragam.

Langkah tersebut juga menjaga keseimbangan antara pasar yang sudah siap beralih ke EV dan pasar yang masih mengandalkan kendaraan konvensional. Dengan cara ini, Astra berupaya tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang belum merata di seluruh Indonesia.

Tekanan baru dari China dan Korea Selatan

Masuknya produsen otomotif global dari China dan Korea Selatan menambah ketat persaingan di pasar nasional. Kehadiran mereka membawa teknologi baru dan memperbesar kompetisi, terutama di segmen kendaraan listrik yang sedang tumbuh.

Namun Astra menilai tekanan itu belum tentu langsung menggerus posisi yang telah lama dibangun. Jaringan distribusi yang luas dan portofolio produk yang beragam masih menjadi kekuatan penting untuk menjaga pangsa pasar.

Dengan ekosistem bisnis yang sudah terbentuk di banyak wilayah, Astra melihat peluang mempertahankan pangsa sekitar 50 persen tetap terbuka. Pasar otomotif nasional pun masih dipandang sebagai pasar yang sedang berada dalam masa transisi, sehingga ruang untuk kendaraan konvensional, hybrid, dan EV masih sama-sama tersedia.

Berita Terbaru