Meta dan Google Melesat di Kacamata Pintar, Apple Belum Menyiapkan Jawaban Cepat

Author: Redaksi Android62

Persaingan smart glasses kini tidak lagi bergerak pelan. Pasar perangkat ini diproyeksikan naik dari sekitar 6 juta unit pada 2025 menjadi 20 juta unit pada 2026, dan lonjakan itu menandakan kategori ini mulai masuk ke interaksi digital harian.

Di titik inilah Meta dan Google terlihat paling siap mengambil posisi terdepan. Sementara itu, Apple belum memiliki kacamata pintar yang dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat, sehingga peta persaingan untuk komputasi generasi baru mulai terbentuk tanpa kehadiran produk andalan dari perusahaan tersebut.

Meta tancap gas lewat Ray-Ban Meta

Meta menjadi salah satu nama yang paling agresif di segmen ini. Ray-Ban Meta dipakai sebagai fondasi awal untuk membangun pasar, dan penjualannya dilaporkan naik tiga kali lipat pada 2025.

Kenaikan itu menunjukkan ada permintaan nyata di luar kelompok pengguna awal. Meski begitu, divisi Reality Labs masih mencatat kerugian USD 4,03 miliar pada kuartal pertama 2026, yang menegaskan biaya besar masih harus ditanggung untuk mendorong adopsi lebih luas.

Di saat yang sama, Meta justru menaikkan belanja modal ke level USD 125–145 miliar. Langkah itu memberi sinyal bahwa perusahaan memilih mempercepat pertumbuhan pasar terlebih dahulu, meski harus menyerap beban investasi yang besar.

Google membangun jalur yang lebih terbuka

Google, melalui Alphabet, menempuh pendekatan yang berbeda. Perusahaan ini menyiapkan Android XR sebagai platform yang dijadwalkan meluncur pada 2026, dengan strategi yang bertumpu pada ekosistem dan kemitraan.

Dukungan dari Warby Parker, Gentle Monster, dan Samsung memperkuat peluang Google untuk masuk ke pasar massal. Kolaborasi itu juga relevan karena pengguna kacamata resep mencakup sekitar 69 persen populasi global, sehingga jalur distribusi dan penerimaan konsumen menjadi sangat penting.

Dengan pendekatan seperti ini, Google tidak hanya mengejar perangkat. Perusahaan juga sedang membangun jejaring yang bisa mempercepat adopsi di luar segmen penggemar teknologi.

Apple masih kuat, tetapi belum memegang momentum awal

Di sisi lain, Apple tetap menunjukkan performa bisnis inti yang solid. Perusahaan membukukan pendapatan kuartal kedua fiskal 2026 sebesar USD 111,184 miliar atau sekitar Rp 1.930 triliun, naik 16,6 persen secara tahunan, dengan laba per saham USD 2,01.

Tim Cook juga menyebut permintaan terhadap lini iPhone 17 sangat kuat. Namun, dalam penjelasan itu tidak ada penekanan pada kategori kacamata pintar, sehingga pasar membaca posisi Apple dengan lebih hati-hati untuk segmen baru ini.

Saham AAPL sendiri diperdagangkan di level USD 287,44, naik 47,1 persen dalam satu tahun, dengan rasio harga terhadap laba sekitar 35 kali. Meski valuasinya tinggi, ekspektasi pasar derivatif masih menunjukkan keraguan terhadap kecepatan Apple di arena smart glasses.

Tingkat persaingan ikut ditentukan rantai pasok AI

Perubahan di pasar smart glasses juga menarik perhatian pemain lain di belakang layar. Broadcom muncul sebagai bagian penting dalam rantai pasok cip AI untuk perangkat generasi baru, dengan pertumbuhan pendapatan 29,5 persen secara tahunan.

CEO Hock Tan menyebut Broadcom membukukan pendapatan kuartal pertama yang memecahkan rekor, didorong oleh kekuatan berkelanjutan dalam solusi semikonduktor AI. Ini memperlihatkan bahwa persaingan smart glasses tidak hanya soal merek perangkat, tetapi juga kesiapan komponen yang menopang kemampuan AI.

Di pasar derivatif, probabilitas bahwa Vision Pro generasi kedua meluncur sebelum 2027 hanya 6 persen. Angka itu membuat jarak momentum antara Apple dan para pesaingnya semakin terlihat, terutama ketika Meta dan Google sudah lebih dulu menggarap pasar, distribusi, dan ekosistem pendukungnya.

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru