Meta kembali menekan pasar perangkat wearable dengan merilis kacamata pintar baru seharga USD 299. Banderol ini setidaknya USD 80 lebih murah dibanding Meta Ray-Ban generasi kedua versi entry level, dan menjadi langkah penting dalam strategi perusahaan memperluas adopsi.
Harga yang lebih rendah itu bukan sekadar promosi sesaat. Di tengah persaingan perangkat berbasis AI yang makin panas, Meta tampak ingin membuat kacamata pintar lebih mudah dijangkau oleh pasar umum, bukan hanya kalangan awal yang tertarik pada teknologi baru.
Fokus pada fungsi harian, bukan layar
Perangkat anyar ini hadir tanpa layar, tetapi tetap membawa kamera dan speaker terintegrasi. Kombinasi tersebut memungkinkan pengguna berinteraksi dengan AI Meta tanpa harus terus-menerus mengeluarkan ponsel dari saku.
Lewat sistem itu, pengguna bisa berbicara dengan AI Meta untuk menerjemahkan atau memahami apa yang sedang dilihat di sekitar. Kacamata ini juga dapat dipakai mengambil foto dan merekam video langsung dari sudut pandang pemakai.
Meta memilih pendekatan yang lebih sederhana lebih dulu, alih-alih langsung mendorong perangkat yang paling kompleks untuk pasar massal. Langkah ini menunjukkan perusahaan ingin memperluas penggunaan dengan produk yang ringan, fungsional, dan lebih murah.
Ambisi yang tak lagi disembunyikan
Mark Zuckerberg sebelumnya sudah berkali-kali menyampaikan keyakinannya bahwa kacamata pintar pada akhirnya bisa mengambil alih peran smartphone. Menurutnya, kacamata dan AI saling terkait erat dan menjadi bagian penting dari masa depan komputasi.
Zuckerberg menilai kacamata adalah bentuk perangkat yang ideal untuk AI maupun Metaverse. Dengan perangkat seperti ini, AI bisa melihat apa yang dilihat pengguna, mendengar apa yang didengar pengguna, lalu merespons secara langsung sepanjang hari.
Ia juga melihat kacamata sebagai jembatan antara dunia fisik dan digital, termasuk melalui hologram. Dalam pandangan tersebut, kacamata bukan lagi aksesori, melainkan platform komputasi baru yang selalu menempel di tubuh pengguna.
Potensi pasarnya dinilai sangat besar. Zuckerberg pernah menyebut lebih dari satu miliar orang di dunia memakai kacamata, dan banyak di antaranya berpeluang beralih ke kacamata AI dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Meta menyiapkan jalan menuju perangkat yang lebih maju
Kacamata pintar murah ini juga diposisikan sebagai batu loncatan. Para eksekutif Meta menyebut perangkat ringan seperti ini sebagai tahap awal sebelum hadir kacamata berlensa layar dengan kemampuan komputasi yang lebih penuh.
Gambaran itu terlihat dari langkah Meta sebelumnya yang sempat mengumumkan Ray-Ban Display seharga USD 799 dengan layar internal. Jika dibandingkan, harga Meta Glasses yang baru jauh lebih rendah dan jelas menurunkan hambatan bagi konsumen umum.
Di sisi bisnis, posisi Meta di pasar ini juga tergolong dominan. Bersama EssilorLuxottica, induk Ray-Ban, perusahaan diperkirakan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar dan telah menjual jutaan unit sejak peluncuran perdananya pada 2021.
Meski begitu, produk baru ini tidak lagi memakai merek Ray-Ban maupun Oakley. Kacamata tersebut tetap diproduksi bersama EssilorLuxottica, tetapi hadir dengan desain baru dan identitas yang berbeda.
Persaingan dengan Google dan Snap makin terbuka
Langkah Meta muncul saat para pesaing juga bergerak agresif. Bulan lalu, Google menyatakan sedang mengembangkan kacamata pintar baru bersama Warby Parker yang akan ditenagai AI Gemini.
Pekan lalu, Snap juga mengumumkan Specs seharga USD 2.195. CEO Snap Evan Spiegel bahkan memosisikan perangkat itu sebagai penerus smartphone, memperlihatkan bahwa narasi perangkat pengganti ponsel kini mulai diperebutkan lebih dari satu pemain besar.
Dengan menekan harga, Meta berusaha mengambil jalur yang berbeda dari sebagian rivalnya. Jika strategi ini berhasil, kacamata pintar murah berpotensi menjadi pintu masuk yang lebih luas bagi komputasi berbasis AI dalam aktivitas sehari-hari.
Source: inet.detik.com






