Meta kembali menjadi sorotan setelah peta jalan perangkat wearable yang bocor memuat rencana kacamata AI dengan pengenalan wajah. Fitur itu disebut “Name Tag” dan langsung memunculkan kekhawatiran karena dapat menghubungkan data biometrik dengan identitas seseorang.
Yang membuat isu ini makin sensitif adalah arah pengembangan Meta yang tampak semakin agresif di lini wearable. Perusahaan terlihat mendorong kacamata pintar berbasis AI, sensor aktif, dan asisten digital sebagai fondasi produk berikutnya.
Nama “Name Tag” disebut ditemukan dalam kode aplikasi Meta oleh The Smart Glasses Guy. Meta sendiri belum mengonfirmasi keberadaan fitur tersebut, tetapi kemunculannya dalam roadmap sudah cukup untuk memicu perdebatan soal batas penggunaan data wajah.
Pengenalan wajah dan risiko privasi
Pengenalan wajah tidak dipandang sebagai fitur biasa karena teknologi ini bisa mengaitkan ciri biometrik dengan identitas personal. Karena itu, sorotan terhadap fitur ini langsung mengarah pada persoalan privasi, terutama di wilayah yang punya aturan perlindungan data ketat.
Kekhawatiran juga bertambah karena roadmap Meta menyinggung sensor yang selalu aktif. Tujuannya memang agar perangkat lebih peka terhadap lingkungan sekitar, tetapi pendekatan itu sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana perangkat akan terus memantau pengguna.
AI jadi inti lini wearable Meta
Di saat perhatian tertuju pada potensi pengenalan wajah, Meta juga disebut menyiapkan mesin AI bernama “Muse Spark”. Sistem ini dirancang untuk memproses data secara real-time langsung di perangkat, sehingga ketergantungan pada cloud bisa dikurangi.
Pemrosesan lokal itu diposisikan sebagai cara untuk meningkatkan performa sekaligus membantu keamanan data. Namun, pemrosesan di perangkat tidak otomatis menghapus kekhawatiran jika data sensitif dari wajah atau lingkungan tetap dikumpulkan.
Meta juga menyiapkan agen AI bernama “Hatch” untuk membantu tugas produktivitas. Fitur ini dirancang untuk penjadwalan, pengelolaan email, dan aktivitas online tertentu, dengan pengujian internal dijadwalkan pada Juni 2026.
“Hatch” disebut berpotensi menjadi layanan premium di masa depan. Arah ini menunjukkan bahwa Meta tidak hanya ingin menjual perangkat keras, tetapi juga membangun layanan berlangganan berbasis AI untuk pengguna wearable.
Target pasar dari kelas terjangkau sampai premium
Roadmap yang bocor itu juga memperlihatkan strategi produk yang menyasar banyak segmen pasar. Meta disebut ingin menghadirkan kacamata pintar dari kelas entry-level hingga premium agar perangkat ini tidak hanya menarik bagi pengguna kelas atas.
Model “Medel” diposisikan sebagai opsi terjangkau. Perangkat ini disebut membawa kamera, kemampuan AI, dan audio, tetapi tanpa layar.
Di kelas menengah, Meta menyiapkan “Luna” yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur. Kacamata ini disebut memakai layar HUD monokrom untuk menampilkan notifikasi tanpa terasa terlalu rumit.
Meta juga menyiapkan “Ray-Ban Meta 2 Refresh” untuk meningkatkan kenyamanan pemakaian. Pembaruan ini diarahkan pada penyempurnaan desain perangkat keras sambil tetap mempertahankan fitur inti yang sudah ada.
Untuk segmen premium, roadmap menyebut “Mojito VIP” yang dijadwalkan hadir pada Desember 2026. Model ini disebut memakai layar waveguide penuh dan prosesor generasi berikutnya.
Prototipe yang makin jauh dari kacamata pintar biasa
Di luar produk yang lebih dekat ke pasar, Meta juga menggarap beberapa prototipe. “Artemis” dan “Super Sensing Glasses” atau SSG disebut membawa sensor selalu aktif untuk pemindaian lingkungan dan kesadaran kontekstual.
Dua prototipe itu memperlihatkan ambisi Meta untuk membuat wearable yang bisa berinteraksi lebih alami dengan dunia sekitar. Semakin tinggi tingkat kesadaran konteks perangkat, semakin besar pula perdebatan tentang data yang direkam, dianalisis, dan disimpan.
Roadmap itu juga menyinggung AI Pendant yang ditargetkan meluncur pada 2027. Perangkat ini disebut mampu merekam, mentranskripsi, dan merangkum percakapan secara real-time.
Di sisi bisnis, Meta membidik 10 juta unit penjualan pada paruh kedua 2026 untuk divisi wearable-nya. Target tersebut menunjukkan keyakinan besar perusahaan terhadap pasar perangkat berbasis AI, meski sorotan terhadap privasi tetap menjadi ujian terberat bagi arah pengembangan ini.
Source: www.geeky-gadgets.com






