Meta kembali menarik perhatian di pasar kacamata pintar setelah menurunkan harga model barunya menjadi $299. Angka itu lebih rendah dari model sebelumnya yang dibanderol mulai $379, tetapi perangkat ini tetap mempertahankan fitur utama yang selama ini menjadi daya tariknya.
Keputusan itu memperlihatkan strategi yang lebih jelas untuk memperluas adopsi smart glasses di luar kalangan penggemar awal. Dengan selisih harga $80, Meta memberi sinyal bahwa perangkat ini ingin masuk ke kelompok konsumen yang selama ini masih menunggu harga yang lebih masuk akal.
Fitur inti tidak ikut dipangkas
Meski lebih murah, Meta tidak mengubah perangkat keras intinya. Kacamata ini masih membawa kamera 12MP dengan perekaman video 3K dan daya tahan baterai hingga delapan jam.
Perangkat tersebut juga tetap dilengkapi charging case untuk membantu pengisian daya saat dibutuhkan. Dari sisi pengalaman pakai, penurunan harga ini lebih terlihat sebagai langkah memperluas pasar ketimbang membuat versi yang dipangkas habis.
Meta juga tetap mempertahankan akses ke Meta AI dan fitur Live Translation. Dua fitur itu memperkuat posisi kacamata ini sebagai perangkat wearable yang tidak hanya berfungsi untuk dokumentasi, tetapi juga untuk komunikasi dan bantuan digital.
Desain dibuat lebih ramah bagi pembeli umum
Salah satu tantangan terbesar smart glasses adalah membuatnya terasa cukup berguna tanpa terlihat terlalu asing. Meta tampaknya menanggapi hal itu dengan memberi lebih banyak pilihan desain agar perangkat lebih mudah diterima sebagai aksesori sehari-hari.
Model baru ini tersedia dalam tiga gaya, yaitu Adventurer, Fury, dan Meta Glasses by Kylie. Selain itu, pengguna bisa memilih berbagai warna frame dan lensa agar tampilannya lebih sesuai dengan selera pribadi.
Dukungan lensa resep juga tetap tersedia. Ini membuat perangkat tidak hanya relevan bagi pembeli yang mencari gadget baru, tetapi juga bagi mereka yang memang memakai kacamata untuk kebutuhan penglihatan harian.
Meta bahkan menyiapkan opsi sunglasses, sehingga kacamata pintar ini bisa diposisikan sebagai aksesori fesyen sekaligus perangkat teknologi. Pendekatan itu penting karena kategori ini masih berjuang keluar dari citra produk khusus untuk kelompok tertentu.
Masih mengandalkan pendekatan tanpa layar
Kacamata pintar Meta tetap tidak memakai display. Justru pilihan itu membuat wujudnya lebih dekat ke kacamata biasa, sesuatu yang selama ini menjadi keunggulan penting di pasar perangkat wearable.
Pengguna dapat mengambil foto dan video langsung saat bergerak tanpa harus mengeluarkan ponsel. Di sisi audio, perangkat ini memakai speaker open-ear yang memungkinkan suara diputar tanpa menutup telinga sepenuhnya.
Untuk interaksi suara, tersedia enam mikrofon yang membantu kejernihan ketika berbicara dengan perangkat atau melakukan panggilan. Kombinasi fitur ini membuatnya tetap praktis untuk penggunaan harian meski bentuknya sederhana.
Langkah Meta makin agresif di segmen ini
Ray-Ban Meta generasi sebelumnya sempat menjadi pijakan penting bagi perusahaan di pasar kacamata pintar, dengan posisi yang lebih premium. Kini, model baru yang lebih murah memberi alternatif yang lebih mudah dijangkau tanpa menghilangkan pengalaman inti.
Dalam ulasan yang dirujuk, Ray-Ban Meta Gen 2 disebut menyenangkan untuk digunakan meski tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Produk itu bahkan memperoleh nilai 9/10, yang menunjukkan bahwa fondasi produknya sudah cukup matang.
Karena itu, penurunan harga pada model baru bisa menjadi langkah yang lebih menentukan dibanding sekadar pembaruan kosmetik. Meta tampak ingin menjadikan smart glasses sebagai produk yang lebih akrab bagi pasar umum, bukan hanya eksperimen untuk pengguna awal.
Di tengah upaya banyak merek masuk ke segmen ini, Meta kini mencoba memadukan harga yang lebih rendah, fitur yang tetap penuh, dan desain yang lebih fleksibel. Jika strategi itu berhasil, kacamata pintar bisa makin dekat ke konsumen yang selama ini masih ragu untuk mencobanya.
