Meta sedang memperluas cara memeriksa usia pengguna di Facebook dan Instagram dengan memanfaatkan AI yang membaca petunjuk visual dari wajah. Langkah ini tidak ditujukan untuk mencari identitas orang, melainkan untuk memperkirakan apakah seseorang masih remaja dari ciri-ciri yang tampak di foto.
Pendekatan baru ini muncul di tengah tekanan yang makin kuat dari regulator di Eropa, Brasil, dan Amerika Serikat. Mereka menuntut platform digital bisa mengidentifikasi anak di bawah 13 tahun dan menyediakan pengalaman yang sesuai usia bagi pengguna berusia 13–18 tahun.
Selama ini, tanggal lahir yang diisi sendiri oleh pengguna dinilai Meta tidak cukup kuat untuk memverifikasi umur secara akurat. Karena itu, perusahaan menambah lapisan penilaian baru setelah sebelumnya memakai AI untuk membaca petunjuk usia dari teks di profil.
Dari teks profil ke analisis wajah
Sistem yang lebih dulu dipakai Meta memproses berbagai petunjuk di akun pengguna. Isinya mencakup posting ulang tahun, referensi kelas sekolah, komentar teman, bio akun, serta berbagai format konten seperti posting, komentar, keterangan foto, Reels, Live, dan grup Facebook.
Lapisan terbaru memperluas pembacaan itu ke analisis visual wajah. Yang dicari bukan nama atau identitas spesifik, melainkan petunjuk umum yang berhubungan dengan usia dari tampilan seseorang di foto.
Petunjuk yang dianalisis mencakup struktur tulang wajah, proporsi fitur seperti jarak mata dan hidung, tinggi badan relatif dalam foto, serta tanda perkembangan fisik seperti jerawat atau bentuk rahang. Hasilnya dipakai untuk memperbarui perkiraan usia akun.
Setelah itu, sistem dapat memicu pembatasan durasi layar, filter konten sensitif, atau pemblokiran fitur berisiko seperti pesan langsung dari orang asing. Dengan cara ini, Meta ingin menyesuaikan pengalaman pengguna yang diperkirakan masih remaja.
Tekanan aturan yang makin besar
Dorongan untuk membangun sistem ini tidak lepas dari perubahan regulasi di berbagai wilayah. Di Amerika Serikat, aturan seperti Kids Online Safety Act dan COPPA menekan platform agar mencegah akses anak kecil, memberi kontrol orang tua, dan menyaring konten yang tidak sesuai usia.
Di Eropa, arah kebijakan yang sama terlihat lewat Digital Services Act dan Age Appropriate Design Code di Inggris. Brasil juga sedang menyiapkan regulasi yang sejalan, sehingga verifikasi usia tidak lagi dianggap cukup jika hanya bergantung pada pengisian manual.
Dalam konteks itu, Meta melihat pendekatan berbasis data diri seperti tanggal lahir masih terlalu mudah dipalsukan. Perusahaan lalu mencari cara lain yang dianggap bisa memberikan gambaran usia lebih mendekati kenyataan.
Beda dengan pengenalan wajah
Banyak orang mudah menyamakan analisis wajah dengan pengenalan wajah, padahal keduanya tidak sama. Analisis wajah menilai petunjuk visual untuk memperkirakan usia, gender, atau emosi, sedangkan pengenalan wajah bertujuan mengidentifikasi siapa orangnya.
Perbedaan itu juga terlihat dari hasil yang dihasilkan sistem. Analisis wajah bisa memberi perkiraan seperti kemungkinan usia 14–16 tahun, sementara pengenalan wajah mengarah pada identitas, termasuk nama dan data kelahiran.
Pada pengenalan wajah, sistem menyimpan faceprint unik lalu mencocokkannya dengan gambar lain. Meta menegaskan sistem yang diuji tidak melakukan pencocokan identitas dan tidak menyimpan template wajah.
Meski begitu, kritik tetap muncul karena analisis wajah tetap melibatkan data biometrik. Sejumlah pakar privasi menilai risiko tetap ada, termasuk kekhawatiran soal potensi penyalahgunaan data di masa depan.
Kekhawatiran soal privasi dan salah klasifikasi
Selain soal data biometrik, ada risiko lain yang ikut disorot, yaitu kesalahan membaca usia. Jika sistem keliru, remaja yang sudah lebih tua bisa diperlakukan seperti anak kecil dan dibatasi lebih ketat dari yang semestinya.
Karena itu, sebagian pihak memandang langkah Meta bukan hanya sebagai alat perlindungan anak. Kebijakan ini juga dilihat sebagai perluasan pengawasan digital dalam ekosistem media sosial.
Di sisi lain, Meta juga mendorong agar verifikasi usia dibebankan kepada toko aplikasi seperti Apple App Store dan Google Play Store. Perusahaan menyatakan undang-undang seharusnya mewajibkan app store memverifikasi usia pengguna lalu membagikan informasinya kepada pengembang.
Meta mengklaim 88% orang tua di AS mendukung pendekatan tersebut. Perusahaan menilai cara itu lebih konsisten di seluruh aplikasi, mengurangi beban pengembang kecil, dan meminimalkan duplikasi data pribadi.
Namun, Apple dan Google belum memberi respons resmi. Sejumlah analis juga mempertanyakan apakah infrastruktur app store siap menangani verifikasi usia dalam skala besar tanpa menabrak privasi.
Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana platform digital mulai bergeser dari sekadar mengandalkan data yang diisi pengguna ke sistem yang membaca petunjuk dari AI dan biometrik. Di saat yang sama, batas privasi atas data wajah justru makin menjadi sorotan.
