Yang paling menarik dari eksperimen ini justru ada pada hasil akhirnya: sebuah ponsel murah mampu dipakai sebagai mesin Linux yang cukup layak untuk kerja ringan. Perangkat yang digunakan hanya smartphone seharga $50, tetapi setelah dipasangi keyboard dan mouse Bluetooth, hasilnya tidak berhenti di level percobaan iseng.
Di tengah harga PC dan laptop yang terasa semakin berat, ide memanfaatkan ponsel sebagai komputer kecil kembali terlihat masuk akal. Selama perangkat itu tidak dipakai untuk layanan seluler, ponsel tetap menyimpan potensi besar untuk dipakai lewat Wi‑Fi sebagai mesin komputasi sederhana.
Dari ponsel ke desktop Linux
Proyek ini menggunakan Moto G Power 2024 sebagai basisnya. Perangkat tersebut tidak diganti sistem operasinya secara penuh seperti laptop pada umumnya, melainkan diolah lewat Android dengan bantuan Termux dan XFCE.
Pendekatan itu membuat ponsel bisa menjalankan lingkungan Linux tanpa harus meninggalkan fondasi Android sepenuhnya. Setelah dipasangkan dengan periferal eksternal, tampilannya pun mendekati pengalaman memakai laptop atau desktop biasa.
XFCE menjadi bagian penting karena memberi antarmuka yang lebih nyaman untuk penggunaan produktivitas. Dengan keyboard dan mouse Bluetooth, perangkat ini tidak lagi terasa seperti ponsel layar sentuh yang hanya cocok untuk aplikasi mobile.
Aplikasi desktop ikut berjalan
Yang membuat proyek ini menonjol bukan cuma bentuknya yang berubah, tetapi juga fungsinya. Aplikasi Linux yang lebih berat seperti GIMP dan Shotcut disebut bisa berjalan dengan kecepatan yang sangat masuk akal.
Itu membuat hasil akhirnya jauh lebih berguna daripada sekadar demonstrasi teknis. Perangkat semacam ini masih bisa dipakai untuk komputasi ringan hingga menengah, termasuk belajar Linux, mengetik, atau menjelajah web melalui Wi‑Fi.
Korr, yang membagikan eksperimen ini lewat blog R Bites, menilai kemampuan perangkat keras smartphone modern sebenarnya cukup mumpuni. Eksperimen tersebut kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah dilaporkan Hackaday.
Mengapa pendekatan ini terasa relevan
Ada alasan lain mengapa ide ini menarik perhatian. Beberapa operator seluler menjual ponsel dengan harga sekitar seperempat dari nilai pasar, tetapi menguncinya ke layanan operator tertentu jika dipakai sebagai telepon.
Dalam kondisi seperti itu, ponsel yang tidak dipakai sebagai perangkat seluler tetap bisa dimanfaatkan sebagai komputer kecil mandiri. Biayanya rendah, ukurannya ringkas, dan perangkat kerasnya sudah tersedia tanpa perlu membeli PC baru.
Konteks pasar juga ikut memperkuat daya tarik proyek ini. Di saat harga komputer dan laptop dinilai makin tertekan oleh kebutuhan RAM dan penyimpanan, ponsel murah menjadi jalur yang lebih realistis untuk sebagian pengguna.
Moto G Power 2024 yang dipakai dalam eksperimen ini menjadi contoh yang menonjol. Dengan harga $50 dan dukungan periferal Bluetooth, perangkat tersebut berubah dari ponsel terikat operator menjadi komputer Linux portabel berbiaya sangat rendah.
Korr juga membagikan langkah-langkah dan kode yang dipakai untuk membangun lingkungan Linux itu. Artinya, pengguna lain yang punya perangkat serupa dan akses ke keyboard serta mouse Bluetooth bisa mencoba pendekatan yang sama.
Source: www.xda-developers.com






