Aktivitas perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham kembali menjadi perhatian serius setelah MSCI menilai praktik itu mengganggu integritas pasar modal Indonesia. Sorotan tersebut muncul di tengah penilaian Global Market Accessibility Review periode Juni 2026 yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Market.
Temuan itu penting karena menyangkut persepsi investor global terhadap kualitas pembentukan harga di bursa domestik. Dalam catatan MSCI, aktivitas yang kerap disebut saham gorengan dinilai dapat mengganggu mekanisme pasar yang sehat dan mereduksi kepercayaan terhadap transparansi perdagangan.
Dua catatan minus yang paling disorot
Dari total 18 kriteria, MSCI memberi penilaian minus pada Foreign Exchange Market Liberalization dan Information Flow. Meski begitu, sebagian besar aspek lain masih dinilai positif sehingga posisi Indonesia belum bergeser dari status pasar berkembang.
Catatan tentang Information Flow juga berkaitan dengan keterbatasan akses informasi berbahasa Inggris. Karena itu, regulator dan emiten dinilai perlu memperkuat integrasi sistem pelaporan agar lebih ramah bagi investor global.
Pasar masih dinilai punya fondasi kuat
Investment Specialist Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai penilaian minus dari MSCI tidak otomatis mengubah daya tarik pasar modal nasional. Menurut dia, kualitas tata kelola pasar modal Indonesia masih sangat kompetitif di Asia.
Ia menilai kekuatan pasar domestik masih ditopang ukuran pasar yang besar, likuiditas yang memadai, dan pertumbuhan ekonomi yang solid. Kombinasi itu membuat Indonesia tetap dilihat sebagai salah satu tujuan penting bagi aliran dana asing di kawasan regional.
Azharys juga menegaskan bahwa peringkat tata kelola pasar modal Indonesia masih termasuk salah satu yang terbaik di Asia. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa catatan MSCI belum menghapus fondasi fundamental yang menopang pasar domestik.
Perhatian investor bergeser ke review berikutnya
Di sisi lain, peluang Indonesia turun status dari Emerging Market menjadi Frontier Market disebut sangat kecil. Skala pasar agregat Indonesia masih dianggap cukup tangguh untuk menjaga posisinya.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman Global Market Classification Review MSCI pada 24 Juni. Investor menunggu kepastian terkait status pembekuan sejumlah saham yang sebelumnya menjadi perhatian utama pasar.
Menurut Azharys, status freeze pada beberapa saham menjadi poin yang paling dipantau saat ini. Jika pembekuan itu resmi berakhir, pasar memperkirakan akan ada proses penataan ulang portofolio pada review indeks MSCI berikutnya.
Dengan sorotan terbaru ini, isu transparansi, integritas perdagangan, dan keterbukaan informasi kembali masuk daftar pekerjaan rumah penting bagi pasar modal Indonesia. Di saat yang sama, kekuatan pasar domestik masih menjadi penahan utama agar Indonesia tetap menarik di mata investor global.







