Lagu “Di Udara” menjadi bagian paling menyentuh dari penampilan Efek Rumah Kaca di festival musik Specteve 2026. Momen itu terasa kuat karena band ini menghadirkan penghormatan visual kepada Munir di tengah lagu yang sudah lama dikenal punya resonansi emosional bagi banyak pendengar.
Penampilan Efek Rumah Kaca berlangsung di Summarecon Mall Bekasi pada Sabtu malam. Mereka tampil di Infinite Stage setelah jadwal awal yang tercatat pukul 17.00 WIB harus bergeser karena kendala teknis yang tidak terduga.
Penantian penonton berlangsung sekitar 90 menit sebelum band itu akhirnya naik panggung pada pukul 18.30 WIB. Meski sempat tertunda cukup lama, banyak penonton tetap bertahan hingga akhirnya bisa menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung.
Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, membuka penampilan dengan ucapan terima kasih kepada para penonton yang sabar menunggu. Ia juga berharap festival dapat berjalan lancar sampai malam, menunjukkan bahwa situasi yang sempat terganggu tetap dihadapi dengan sikap tenang dari atas panggung.
Setelah itu, Efek Rumah Kaca membawakan lima lagu yang sudah akrab di telinga penggemar. Deretan lagu tersebut termasuk “Ballerina”, “Sebelah Mata”, “Cinta Melulu”, dan “Di Udara”.
Di antara semua lagu yang dibawakan, “Di Udara” menjadi titik paling emosional dalam set mereka. Saat lagu itu dimainkan, wajah Munir ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kepada aktivis HAM yang meninggal dunia karena diracun pada 7 September 2004.
Bagi penonton, penampilan itu tidak berhenti sebagai hiburan biasa. Musik Efek Rumah Kaca kembali terasa sebagai ruang untuk menyuarakan keresahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus isu sosial yang lebih luas.
Salah satu penonton bernama Haidar, yang datang dari Depok, menilai band ini kerap mewakili keresahan rakyat. Ia juga menyebut “Ballerina” sebagai lagu favorit karena liriknya terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Haidar mengaku sempat kesal karena jadwal tampil mundur. Namun, ia tetap memahami bahwa masalah teknis memang bisa terjadi dalam sebuah acara musik, terutama ketika banyak penonton sudah menunggu cukup lama.
Kombinasi antara penantian panjang, lagu-lagu yang familier, dan simbol penghormatan dalam “Di Udara” membuat penampilan Efek Rumah Kaca meninggalkan kesan yang kuat. Saat akhirnya tampil, mereka membayar kesabaran penonton dengan set yang memadukan emosi dan pesan sosial dalam satu panggung.
Source: www.suara.com






