Museum MACAN Angkat Lanskap Sebagai Ruang Kuasa dan Memori Dalam Pameran 2026

Museum MACAN membuka program pameran 2026 dengan fokus pada lanskap yang dibaca bukan sebagai latar pasif, melainkan sebagai ruang yang memuat kuasa, memori, dan cara pandang. Lewat rangkaian karya modern dan kontemporer, museum ini mengajak publik melihat ulang hubungan manusia dengan alam, ruang, serta representasi visual yang selama ini sering dianggap netral.

Direktur Museum MACAN, Venus Lau, menuturkan bahwa program tersebut akan menelusuri pertemuan antara skala waktu geologis, historis, dan teknologis. Dari sini, lanskap ditempatkan sebagai sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah, politik, dan praktik sosial yang membentuk cara manusia membaca dunia.

Lanskap sebagai arena tafsir

Salah satu sorotan terbesar dalam program ini adalah pameran grup berjudul Menelan Cakrawala. Pameran tersebut menempatkan lanskap sebagai arena yang terus berubah seiring pergeseran cara pandang, mulai dari masa kolonial hingga respons kontemporer terhadap eksploitasi sumber daya dan krisis ekologi.

Museum MACAN menghadirkan karya dari Raden Saleh hingga I Nyoman Masriadi dalam pameran ini. Susunan karya itu memperlihatkan bahwa representasi alam tidak pernah berdiri sendiri, karena selalu terkait dengan relasi kuasa yang memengaruhi cara manusia melihat dan menafsirkan lingkungan.

Pameran individual dengan pendekatan berbeda

Selain pameran grup, program 2026 juga memberi ruang bagi presentasi individual dengan bahasa artistik yang beragam. Salah satunya datang dari Riar Rizaldi lewat karya Period Piece, sebuah instalasi yang berangkat dari pertemuan antara teknologi, sejarah kolonial, dan industri ekstraktif.

Karya tersebut merekonstruksi memori spasial dan budaya sinema era 1990-an. Di saat yang sama, instalasi ini menyoroti sejarah yang kerap tersisih di tengah perkembangan sistem teknologi masa kini.

Material sebagai cara bicara

Perupa asal Singapura, Dawn Ng, menghadirkan Atlantis II, rangkaian karya berbasis es yang menyoroti kefanaan dan perjalanan waktu. Es dipilih sebagai medium yang dekat dengan kondisi tropis, sekaligus menjadi metafora perubahan dari keberadaan menuju ketiadaan.

Pendekatan material juga terlihat pada karya Marcos Kueh di Sculpture Garden. Melalui Kenyalang Circus, ia menampilkan tekstil yang mengangkat simbol-simbol sakral Borneo yang direproduksi lewat teknik industri.

Karya itu sekaligus memberi kritik terhadap komodifikasi warisan budaya dalam lanskap visual kontemporer. Dengan begitu, medium tekstil tidak hanya menjadi bentuk estetis, tetapi juga perangkat untuk membaca ulang nilai budaya yang dipindahkan ke ranah industri.

Ruang belajar untuk anak

Museum MACAN juga menyiapkan Ruang Seni Anak melalui instalasi Beradu Padu karya Ruth Marbun. Program ini dirancang agar anak-anak dapat mengeksplorasi hubungan manusia dan material lewat pengalaman taktil yang lebih langsung.

Pendekatan tersebut dipilih untuk merespons derasnya arus informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka itu, pendidikan seni ditempatkan sebagai bagian dari cara memahami dunia visual yang semakin padat dan cepat berubah.

Tema besar yang mengikat seluruh program

Rangkaian pameran ini memperlihatkan bahwa lanskap bukan sekadar pemandangan yang dinikmati mata. Di tangan para seniman yang terlibat, lanskap berubah menjadi medan pertemuan antara sejarah, teknologi, budaya, dan kekuasaan.

Melalui program 2026 ini, Museum MACAN mendorong pembacaan baru atas hubungan manusia dengan lingkungan. Pameran-pameran tersebut juga menegaskan bahwa seni dapat membuka cara pandang lain terhadap dunia yang terus bergerak dan berubah.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait