Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, kini dipandang punya peran yang lebih luas daripada sekadar tempat mengenang seorang tokoh buruh. Kawasan ini mulai diarahkan menjadi wisata edukasi yang tidak hanya menyimpan jejak perjuangan, tetapi juga diharapkan ikut menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Di samping rumah masa kecil Marsinah, Museum Pahlawan Nasional Pejuang Buruh Marsinah berdiri sebagai ruang yang mengajak pengunjung melihat kembali sejarah perjuangan hak asasi manusia dari sudut yang lebih dekat. Bagi banyak pihak, keberadaan museum ini membuka peluang baru karena ziarah dan kunjungan belajar bisa berjalan beriringan.
Ruang belajar yang ditata sebagai pengalaman visual
Penataan museum dinilai sudah rapi dan tertib. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan foto, kliping koran asli, serta pakaian yang dikenakan Marsinah sebelum jasadnya ditemukan.
Museum itu juga menampilkan diorama suasana yang dihadapi buruh pada tahun 1990-an. Susunan tersebut membuat pengunjung dapat memahami kembali konteks perjuangan buruh melalui tampilan visual, bukan hanya melalui cerita lisan.
Khofifah Indar Parawansa menilai museum ini menyimpan rekam jejak pahlawan nasional perempuan yang memperjuangkan hak-hak buruh semasa hidup. Ia berharap keteguhan dan keberanian Marsinah dalam menegakkan keadilan bisa memberi inspirasi yang lebih luas.
Didukung ekosistem desa wisata
Daya tarik museum dinilai akan makin kuat karena Desa Nglundo pada 2026 sudah memperoleh SK sebagai Desa Wisata dari Bupati Nganjuk. Di desa itu juga telah terbentuk kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.
Menurut Khofifah, pengelolaan desa wisata yang mulai aktif akan semakin menunjang keberadaan museum. Ia melihat tumbuhnya ekosistem wisata di desa dapat membuat museum tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi warga.
Posisi museum sebagai tujuan ziarah sekaligus ruang edukasi juga menjadi nilai tambah. Dengan fungsi ganda itu, tempat ini dapat dikunjungi oleh orang-orang dengan latar belakang berbeda, baik untuk mengenang tokoh buruh maupun untuk belajar tentang perjuangan hak asasi manusia.
Didanai dari solidaritas buruh
Pembangunan museum ini didanai dari donasi buruh seluruh Indonesia serta keuangan organisasi independen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia atau KSPSI. Pengelolaannya nantinya berada di bawah Yayasan KSPSI.
Penataan museum disebut mengadopsi konsep Museum Galeri Nasional Singapura. Dengan pola seperti itu, museum diharapkan memiliki tata pamer yang kuat sekaligus mudah diakses oleh pengunjung.
Khofifah mendampingi Presiden Prabowo Subianto saat peresmian sekaligus peninjauan Museum Pahlawan Nasional Pejuang Buruh Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo. Acara itu dihadiri Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea, Sekjen ITUC Shoya Yoshida, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, keluarga besar Marsinah, serta massa buruh dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Prabowo menyebut museum tersebut sebagai pengingat bagi generasi muda bahwa membangun negara memerlukan usaha panjang, penuh kesulitan, dan tantangan. Ia juga menegaskan museum itu menjadi lambang peringatan bagi keberanian seorang pejuang muda perempuan yang membela hak-hak buruh.
Khofifah berharap museum ini menjadi amal jariyah bagi Marsinah, yang dikenang sebagai Pahlawan Nasional Pejuang Buruh. Dengan posisi sebagai ruang sejarah, edukasi, dan wisata, Museum Marsinah kini menjadi salah satu titik yang dinilai mampu menghidupkan Nganjuk dari jejak perjuangan buruh.
Source: www.antaranews.com






