N5 Buka Jalan Internet 3T, Indonesia Perkuat Kedaulatan Digital Dari Antariksa

Indonesia kini punya dorongan baru untuk memperluas akses internet dari langit melalui Satelit Nusantara Lima atau N5. Satelit ini resmi mulai beroperasi dan langsung diposisikan sebagai infrastruktur penting untuk mempercepat konektivitas digital, terutama di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal.

Kehadiran N5 juga membawa pesan yang lebih besar dari sekadar penambahan kapasitas jaringan. Di balik operasionalnya, ada agenda penguatan kedaulatan digital dan kemandirian antariksa nasional yang ikut ditegaskan.

Dalam peresmian operasionalnya, Meutya Hafid hadir bersama sejumlah pejabat pemerintah dan perwakilan industri antariksa internasional. Ia menekankan bahwa layanan internet harus bisa dirasakan merata oleh seluruh masyarakat, bukan hanya di kota besar atau Pulau Jawa.

Pernyataan itu menjadi relevan karena konektivitas digital nasional saat ini baru menjangkau sekitar 80 persen populasi. Masih ada sekitar 20 persen masyarakat yang membutuhkan akses internet berkualitas untuk menunjang aktivitas harian mereka.

Di titik inilah satelit masih memegang peran penting. Untuk negara dengan wilayah luas dan tersebar seperti Indonesia, jaringan berbasis satelit tetap menjadi solusi yang relevan ketika infrastruktur darat sulit menjangkau daerah tertentu.

Kapasitas besar untuk Indonesia dan kawasan

N5 membawa status sebagai satelit berkapasitas terbesar di Asia dengan teknologi Very High Throughput Satellite atau VHTS. Kapasitasnya mencapai 160 Gbps dan dirancang untuk menghadirkan distribusi internet berkecepatan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

Jangkauannya tidak hanya terbatas pada kebutuhan dalam negeri. Satelit ini juga disebut dapat mendukung konektivitas ke negara ASEAN seperti Malaysia dan Filipina, sehingga perannya ikut menguatkan ekosistem satelit regional.

Secara teknis, N5 menggunakan platform Boeing 702MP dan didukung 101 spot beam berbasis frekuensi Ka-band. Kombinasi itu ditujukan untuk memperluas sebaran layanan sekaligus menjaga efisiensi pengiriman data di area yang luas.

Teknologi hybrid dan masa operasi panjang

Salah satu keunggulan N5 ada pada sistem propulsinya. Satelit ini memakai propulsi hybrid yang menggabungkan propulsi kimia dan Xenon-Ion Propulsion System atau XIPS.

Teknologi tersebut disebut hingga 10 kali lebih efisien dibanding satelit konvensional. Dengan bobot mencapai 7,8 ton, N5 juga dirancang memiliki masa operasional lebih dari 15 tahun.

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menilai pengoperasian N5 bukan sekadar proyek bisnis. Menurut dia, satelit ini menjadi simbol penting kemandirian Indonesia di sektor antariksa dan penanda kekuatan bangsa dalam menjaga kepentingan nasional.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur digital kini semakin erat dengan isu kedaulatan teknologi. Dalam konteks itu, antariksa diposisikan bukan hanya sebagai ruang teknologi, tetapi juga sebagai simbol kedaulatan bangsa.

Dampak ke layanan publik dan jaringan pendukung

Untuk mendukung layanan berbasis satelit, PSN telah menyiapkan tujuh stasiun bumi yang tersebar di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, dan Kupang. Sebaran ini dirancang agar konektivitas N5 dapat menjangkau Indonesia Barat, Tengah, dan Timur secara optimal.

Jaringan pendukung tersebut diharapkan mempercepat transformasi digital di pendidikan, kesehatan, pemerintahan, ekonomi digital, hingga pertahanan dan keamanan nasional. Dengan infrastruktur yang lebih terhubung, manfaat satelit diharapkan tidak berhenti pada internet semata.

Pada momen yang sama, PSN juga memperkenalkan layanan internet berbasis satelit bernama Cerdiq. User terminal hasil pengembangan tim Research & Development PSN ini dibuat dengan konsep sederhana dan ringan, lalu akan menggunakan konektivitas dari Satelit N5.

Perusahaan menyebut Cerdiq menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri atau TKDN sekaligus memperkuat daya saing produk teknologi Indonesia di pasar global. Beroperasinya N5 pun menandai babak baru bagi infrastruktur digital nasional berbasis teknologi antariksa.

Source: id.mashable.com

Berita Terkait