Nanoplastik kini tercatat telah mencapai Antartika, wilayah yang selama ini dianggap jauh dari pusat pencemaran manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil dapat bergerak melintasi jarak amat jauh dan tetap bertahan hingga wilayah kutub.
Di kawasan McMurdo Dry Valleys, peneliti menemukan nanoplastik tidak hanya di permukaan tanah, tetapi juga pada lapisan yang lebih dalam. Fakta itu memperkuat kekhawatiran bahwa polusi plastik sudah menyebar ke lingkungan yang paling terpencil sekalipun.
Temuan yang paling mencolok
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menganalisis sampel tanah dari Lembah Taylor dan Wright di McMurdo Dry Valleys, Antartika. Hasilnya, sekitar 54 persen sampel terbukti mengandung nanoplastik.
Peneliti mengambil 13 sampel tanah permukaan dan 4 sampel tanah sedalam 20 sentimeter pada Januari 2023. Dari dua kelompok sampel itu, tingkat temuan nanoplastik menunjukkan bahwa partikel tersebut sudah masuk ke tanah, bukan sekadar menempel di permukaan.
| Lokasi Sampel | Jumlah Sampel | Hasil Utama | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Tanah permukaan | 13 sampel | Sekitar 54% mengandung nanoplastik | Diambil di Lembah Taylor dan Wright |
| Tanah sedalam 20 sentimeter | 4 sampel | Sekitar 54% mengandung nanoplastik | Diambil pada Januari 2023 |
Mengapa partikel ini sulit terdeteksi
Nanoplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari satu mikrometer. Ukurannya jauh lebih kecil daripada mikroplastik, sehingga hampir tidak terlihat bahkan dengan mikroskop biasa.
Ahli kimia lingkungan Eric Lichtfouse menyebut penelitian tentang nanoplastik masih terbatas karena pendeteksiannya memerlukan teknik analisis khusus. Menurutnya, kondisi itu membuat keberadaan nanoplastik lebih sering luput dibandingkan mikroplastik.
Partikel ini umumnya terbentuk saat plastik berukuran lebih besar terurai akibat paparan sinar ultraviolet, gelombang laut, dan proses pelapukan lainnya. Karena sangat ringan, nanoplastik dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer, termasuk menuju kawasan kutub.
Jenis plastik yang paling dominan
Analisis tersebut juga menemukan enam jenis plastik, dengan polipropilena sebagai komponen terbesar. Di bawahnya ada partikel aus ban dan polietilena, yang menunjukkan sumber polusi di Antartika tidak datang dari satu jalur saja.
| Jenis Partikel | Persentase | Keterangan |
|---|---|---|
| Polipropilena | 41,9% | Jenis yang paling dominan |
| Partikel aus ban | 29,6% | Tire wear particles |
| Polietilena | 14,6% | Salah satu jenis yang teridentifikasi |
Temuan ini terasa ironis karena Antartika tidak memiliki penduduk asli maupun aktivitas industri yang signifikan. Namun, wilayah itu sudah lama tercatat mengandung plastik di air laut, salju, lapisan es, hingga garis pantainya.
Dengan temuan terbaru ini, Antartika makin jelas masuk dalam peta wilayah yang terdampak polusi plastik. Partikel yang nyaris tak terlihat itu terbukti mampu menempuh perjalanan jauh dan mencapai lingkungan yang paling terpencil dari aktivitas manusia.
