Di bawah permukaan laut, kapal selam tidak bisa bergantung pada GPS seperti kendaraan di darat atau kapal di permukaan. Saat sudah menyelam, sinyal satelit tidak mampu menembus laut dalam, sehingga navigasi harus dijalankan dengan sistem lain yang tetap bekerja dalam gelap.
Di situ kapal selam mengandalkan inertial navigation system yang memakai giroskop dan akselerometer untuk memperkirakan posisi. Sistem ini bisa menjaga perkiraan lokasi hingga dalam hitungan ratusan kaki, tetapi kru tetap perlu mengkalibrasi giroskop setiap 150 jam agar kesalahan kecil tidak menumpuk.
Cara kapal selam bergerak di air juga jauh dari bayangan banyak orang. Kapal ini tidak hanya naik dan turun lewat ballast tank, karena ada diving planes atau hydroplanes di bagian luar yang membantu mengatur kedalaman.
Hydroplanes itu bekerja mirip elevator pada pesawat, tetapi di air. Hydroplanes depan biasanya dipakai untuk kontrol kedalaman pada kecepatan rendah, sedangkan hydroplanes buritan lebih sering mengatur sudut atau pitch kapal.
Karena cahaya hampir tidak bisa menembus air, kapal selam juga tidak dapat melihat lingkungan sekitarnya secara langsung. Untuk menggantikan penglihatan, mereka memakai sonar aktif dan pasif sebagai alat utama.
Sonar aktif memancarkan bunyi lalu menangkap pantulannya untuk memetakan sekitar kapal. Metode ini efektif, tetapi juga berisiko karena kapal lain dapat mendengar ping dan melacak posisi kapal selam.
Julukan “Silent Service” muncul bukan tanpa alasan. Kapal selam memang dirancang untuk bergerak tersembunyi di bawah permukaan dan bekerja tanpa terlihat, sehingga banyak aspek operasinya dibuat sangat sunyi dan tertutup.
Di balik kesan itu, hidup kru juga mengikuti ritme yang berbeda dari kehidupan biasa. Saat berada di bawah air, mereka tidak bisa melihat matahari atau langit malam, jadi waktu hanya dibaca lewat jam dan kalender.
Sebagian besar kapal selam Angkatan Laut memakai jadwal 18 jam. Polanya terdiri dari enam jam jaga, enam jam tugas lain seperti perawatan dan latihan, lalu enam jam istirahat, meski praktiknya jam kerja bisa lebih panjang dan tidur sering sangat terbatas.
Yang sering luput dari perhatian adalah batas utama kapal selam modern bukan selalu bahan bakar, melainkan makanan. Banyak kapal selam bertenaga nuklir dapat bertugas selama beberapa tahun tanpa dibatasi suplai energi seperti kapal diesel-elektrik, dan ada yang bisa bertahan dua hingga tiga dekade antara pengisian bahan bakar.
Untuk kebutuhan air, kapal selam membawa suplai sendiri lewat sistem desalinasi dan distilasi. Namun logistik manusia tetap punya batas, karena kru harus makan selama penugasan berlangsung.
Kapal selam juga dikenal sebagai komunitas yang sangat eksklusif. Hanya sedikit personel yang bisa memakai insignia “dolphin”, sementara banyak kapal selam modern hanya membutuhkan 130 hingga 150 awak untuk tetap beroperasi.
Risiko tugas di kapal selam pun tidak kecil, dan sejarah Angkatan Laut AS menyimpan banyak kehilangan. Selama Perang Dunia 2, Angkatan Laut AS kehilangan 52 kapal selam dengan tingkat korban 20 persen, dan total ada 65 kapal selam yang tercatat hilang karena kecelakaan, musuh, atau sebab yang tidak diketahui.
Dalam tradisi angkatan laut, kapal selam yang tidak kembali dari penugasan disebut berada dalam “eternal patrol”. Bahkan kapal yang bangkainya sudah ditemukan dan didokumentasikan tetap masuk daftar itu, dan Angkatan Laut masih mengirim salam untuk kapal-kapal yang hilang setiap Christmas Eve.







