Bagi calon peserta didik di Jawa Barat, tenggat verifikasi NIK menjadi bagian paling penting sebelum pendaftaran SPMB Jabar 2026 Tahap 1 dibuka. Jika validasi belum selesai sebelum 14 Juni 2026, akun bisa terkunci otomatis dan kesempatan mendaftar pada hari pertama ikut hilang.
Pendaftaran daring Tahap 1 dijadwalkan berlangsung pada 15 Juni sampai 19 Juni 2026 melalui portal spmb.jabarprov.go.id. Seluruh proses unggah berkas administrasi dan pemilihan sekolah dilakukan terpusat di laman itu, sehingga kesiapan data sejak awal menjadi penentu lancarnya pendaftaran.
Disdik Jabar menegaskan jadwal tersebut tidak memberi ruang perpanjangan. Penutupan pendaftaran ditetapkan pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 15.00 WIB, dan sistem akan berhenti tepat waktu.
Portal pendaftaran disiapkan untuk menerima input data selama 24 jam. Meski begitu, akses diperkirakan padat pada hari pembukaan dan menjelang penutupan, saat banyak orang tua dan calon peserta didik melakukan finalisasi data.
NIK menjadi kunci aktivasi akun
Verifikasi Nomor Induk Kependudukan menjadi syarat paling krusial dalam proses pendaftaran. Data NIK akan dipadankan langsung dengan pangkalan data kependudukan nasional milik Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Langkah ini tidak hanya menentukan akun tetap aktif atau tidak, tetapi juga dipakai untuk menyaring data ganda dan nomor identitas palsu dalam sistem. Karena proses sinkronisasi membutuhkan waktu, penyelesaian sebelum 14 Juni menjadi langkah yang paling aman.
Jika tenggat itu terlewat, sistem di spmb.jabarprov.go.id akan menolak pengajuan akun pendaftaran baru. Artinya, calon peserta bisa kehilangan momentum untuk masuk pada gelombang awal seleksi.
Pembagian kuota di Tahap 1
Seleksi Tahap 1 dibagi ke empat jalur dengan komposisi kuota yang sudah ditetapkan. Jalur domisili mendapat 35 persen, afirmasi 30 persen, prestasi 30 persen, dan mutasi tugas orang tua 5 persen.
Porsi domisili yang berada di angka 35 persen disusun untuk menjaga keseimbangan akses dan keadilan sosial. Sementara itu, jalur afirmasi dan prestasi mendapat porsi besar, dan jalur mutasi disiapkan bagi anak dari anggota TNI, Polri, ASN, atau karyawan swasta nasional yang pindah tugas mengikuti orang tua.
Dengan skema itu, seleksi awal menjadi ruang utama bagi banyak calon peserta didik untuk bersaing sesuai jalur masing-masing. Karena seluruh proses dilakukan secara daring, ketepatan unggah berkas dan finalisasi data tetap menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan.
Tahap 2 tetap terbuka bagi yang belum lolos
Bagi siswa yang belum berhasil pada Tahap 1, skema dua tahap masih memberi peluang lanjutan. Mereka tetap bisa mendaftar lagi pada Tahap 2 yang dibuka akhir Juni.
Disdik Jabar menyebut peserta yang gugur pada tahap awal tidak perlu membuat akun dari nol saat mendaftar ulang. Namun, mekanisme pengalihan berkas digital dan tata cara seleksi lanjutan pada Tahap 2 belum dijelaskan secara rinci.
Wilayah padat penduduk perlu lebih siap
Pengurangan kuota domisili membuat sebagian orang tua di wilayah padat penduduk semakin waspada. Situasi ini terasa di kawasan aglomerasi Bandung Raya, Depok, Bekasi, dan Bogor yang sama-sama menghadapi tekanan tinggi pada daya tampung sekolah negeri.
Sebagian keluarga mulai menyiapkan sekolah swasta sebagai pilihan cadangan. Di sisi lain, Disdik Jabar berharap pola seleksi baru ini bisa membantu pemerataan mutu pendidikan sekaligus menekan praktik manipulasi data kependudukan.
Source: infopendidikan.bic.id