Dari Pengangkut Pakan, Nirin Jadi Pionir Ayam Petelur Bekasi Lewat KUR BRI

Author: Redaksi Android62

Usaha peternakan ayam petelur milik Nirin Samsudin kini menjadi rujukan di Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Setu, Kabupaten Bekasi. Dari modal awal yang berasal dari pinjaman Rp 60 juta, ia membangun kandang pertama berkapasitas 700 ekor dan kemudian berkembang hingga menampung 1.000 ekor ayam.

Perkembangan itu tidak lepas dari disiplin pengelolaan usaha dan pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI. Setelah pinjaman awal lunas, Nirin kembali mengajukan modal Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun untuk renovasi kandang dan penambahan populasi ayam petelur.

Naik kelas dari pekerjaan harian

Sebelum dikenal sebagai peternak, pria 47 tahun itu bekerja sebagai pengangkut pakan. Dari aktivitas harian tersebut, ia melihat peluang di sektor pasokan telur dan mulai merintis usaha mandiri pada 2020 tanpa modal pribadi.

Langkah awal itu kemudian berkembang ketika dana pinjaman digunakan untuk membangun kandang pertama. Setelah usaha berjalan dan pinjaman pertama selesai dibayar, pembiayaan berikutnya dari BRI dipakai untuk memperluas skala usaha secara lebih terukur.

Produksi telur dan arus kas yang terjaga

Peternakan keluarga Nirin saat ini menghasilkan sekitar 55 hingga 57 kilogram telur per hari. Penjualan berlangsung lancar karena pembeli langsung dan pemilik warung sembako di sekitar lokasi rutin datang, sehingga telur hampir tidak pernah menumpuk di kandang.

Untuk operasional, Nirin mengeluarkan biaya rutin sekitar Rp 2 juta per bulan, sedangkan kebutuhan pakan mencapai Rp 19 juta per bulan. Bibit ayam dibeli saat berusia 13 minggu dan mulai bertelur sekitar satu bulan kemudian, dengan masa produktif rata-rata sekitar dua tahun.

Setelah masa produktif selesai, ayam afkir tetap memberi nilai ekonomi. Ayam itu dijual kembali ke pasar, dan harganya bisa naik pada momentum hari besar di desa, termasuk saat lebaran ketika nilainya dapat mencapai Rp 60.000 per ekor.

Keuntungan keluarga dan manfaat bagi warga

Dari usaha tersebut, keluarga Nirin memperoleh keuntungan bersih bulanan sekitar Rp 14 juta. Selain dari telur, ia juga mendapat pemasukan lain sebagai pemasok pakan untuk peternakan warga lain.

Kehadiran peternakan ini juga membuka kesempatan kerja kecil bagi warga sekitar. Nirin mempekerjakan warga secara berkala untuk membersihkan kotoran ayam setiap empat hari sekali dengan upah sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.

Limbah kandang pun ikut bernilai ekonomi karena dijual ke petani lokal seharga Rp 10 ribu per karung. Kotoran ayam itu kemudian diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman padi, dan permintaannya disebut terus berjalan karena dinilai bermanfaat bagi petani di wilayah tersebut.

Menjadi pusat pengetahuan bagi peternak sekitar

Peran Nirin di lingkungannya kini tidak berhenti pada produksi telur. Sikapnya yang terbuka berbagi pengetahuan manajemen ternak membuatnya dikenal sebagai pionir peternakan ayam petelur di Kampung Cisaat.

Dari praktik usaha yang ia bangun, muncul tujuh lokasi peternakan baru dengan total populasi mencapai 8.000 ekor ayam. Seluruh kebutuhan pakan untuk jaringan peternak itu dibeli langsung oleh Nirin dari pabrik besar di Cikiwul, Bantargebang, Bekasi, sehingga rantai pasok lebih pendek dan harga pakan lebih terkendali.

Saat harga pakan naik, Nirin memilih menahan margin keuntungannya agar peternak binaannya tetap bertahan. Cara itu menjaga hubungan dengan pelanggan dan sesama peternak, sekaligus mempertahankan kepercayaan yang menjadi dasar perkembangan usahanya.

BRI menilai usaha seperti milik Nirin sebagai contoh pembiayaan mikro yang berjalan efektif. Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, menyatakan pihaknya berkomitmen mendampingi pelaku UMKM potensial melalui KUR agar pembiayaan benar-benar membantu pengembangan usaha.

Adi juga menyebut petugas lapangan BRI wajib melakukan pemantauan dan edukasi berkala kepada debitur KUR minimal dua kali dalam sebulan. Pendampingan seperti itu diharapkan menjaga kelayakan usaha sekaligus memastikan pembiayaan terus memberi dampak di tingkat ekonomi kerakyatan.

Berita Terbaru