Kejatuhan Nokia di pasar ponsel bukan terjadi dalam semalam. Perubahan besar dimulai ketika Apple merilis iPhone pada Januari 2007 dan menggeser cara industri memandang ponsel pintar.
Perangkat tidak lagi cukup kuat di sisi hardware. Apple menempatkan software sebagai pusat pengalaman pengguna, sementara Nokia masih bertumpu pada keunggulan perangkat keras yang selama bertahun-tahun membuatnya sulit disaingi.
Symbian yang tak lagi cukup cepat
Di tengah perubahan itu, platform Symbian milik Nokia dinilai tertinggal dari iOS. Banyak analis melihat perusahaan gagal menangkap betapa pentingnya software dalam ekosistem smartphone modern.
Data Gartner memperlihatkan penurunan yang sangat tajam. Nokia masih menguasai 49,4 persen pangsa pasar smartphone global pada 2007, lalu turun bertahap menjadi 43,7 persen, 41,1 persen, dan 34,2 persen, sebelum anjlok hingga tinggal 3 persen pada paruh pertama 2011.
Angka itu menunjukkan bahwa persoalan Nokia bukan sekadar soal produk baru yang kalah bersaing. Perusahaan terlambat membaca arah industri yang mulai menuntut sistem operasi dan model bisnis yang berbeda dari pola lama.
Budaya internal ikut memperburuk keadaan
Masalah di dalam perusahaan juga ikut menekan kemampuan Nokia beradaptasi. Penelitian Tim O. Vuori dari Universitas Aalto dan Qui Huy dari INSEAD Singapura menemukan atmosfer kerja yang mencekam dalam proses inovasi perusahaan.
Studi berjudul Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle itu melibatkan wawancara dengan 76 manajer level atas, manajer menengah, engineer, dan pakar eksternal. Hasilnya menunjukkan para manajer menengah takut melaporkan realita lapangan, terutama ketika target penjualan meleset.
Para eksekutif juga khawatir mengakui kelemahan Symbian karena takut investor, pemasok, dan pelanggan setia berpaling. Akibatnya, laporan yang naik ke puncak organisasi tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Vuori dan Huy juga mencatat bahwa sebagian pimpinan organisasi tidak memiliki pemahaman teknis yang cukup dalam. Kondisi ini memengaruhi keputusan teknologi dan penetapan target bisnis saat Apple banyak dipimpin oleh para engineer.
Strategi jangka pendek menggerus ruang inovasi
Kesalahan lain datang dari cara Nokia membagi sumber daya. Riset tersebut menunjukkan manajemen lebih memprioritaskan pengembangan varian ponsel baru demi mengejar keuntungan pasar jangka pendek.
Langkah itu membuat fokus untuk membangun sistem operasi baru yang kompetitif dalam jangka panjang ikut terpinggirkan. Fenomena ini disebut miopia temporal, yakni kegagalan mempertimbangkan dampak jangka panjang saat mengambil keputusan taktis.
Tekanan ekonomi, hambatan struktur organisasi, dan faktor psikologis membuat perusahaan sulit bergerak lincah. Padahal, Nokia memiliki nilai-nilai seperti Respect, Challenge, Achievement, dan Renewal, meski sebagian karyawan menilai penerapannya tidak konsisten.
Akuisisi Microsoft mengakhiri era ponsel Nokia
Saat bisnis seluler terus merosot, Microsoft masuk untuk membeli divisi perangkat genggam Nokia. Menurut Ben Wood dari CCS Insight, Microsoft saat itu juga menghadapi tantangan besar di pasar mobile dan membutuhkan mitra strategis untuk memperkuat ekosistem Windows Phone di ponsel flagship Nokia.
CEO Microsoft saat itu, Steve Ballmer, menyebut akuisisi itu ditujukan untuk mempercepat inovasi di pasar perangkat bergerak. Gartner juga menilai Microsoft harus berubah menjadi lebih dari sekadar penyedia software agar bisa bersaing dengan Apple dan Google.
Pada 2014, Microsoft meresmikan akuisisi divisi perangkat keras Nokia dengan nilai sekitar 7,2 miliar dollar AS. Setelah itu, Nokia tidak sepenuhnya berhenti berbisnis, tetapi beralih ke infrastruktur jaringan melalui Nokia Solutions and Networks dan pengembangan peta digital lewat divisi Here.
Layanan Here sempat digunakan di sekitar 80 persen sistem navigasi bawaan dashboard mobil global. Di sisi lain, portofolio paten teknologi mobile Nokia diperkirakan Forbes bernilai sekitar 4 miliar dollar AS, sementara hak lisensi merek ponselnya kemudian diakuisisi HMD Global pada 2016.







