Laga terakhir Scottish Premiership kini berubah menjadi ujian mental bagi dua tim yang sama-sama membawa beban besar. Celtic dan Hearts tiba di pekan penentuan dengan tekanan yang tidak hanya datang dari posisi di klasemen, tetapi juga dari nama besar dua pelatih yang mengawal mereka.
Di satu sisi ada Martin O’Neill, sosok senior yang kembali diminta mengangkat Celtic di masa genting. Di sisi lain ada Derek McInnes, pelatih Hearts yang juga datang dengan reputasi kuat dan dukungan pengalaman dari balik layar.
Celtic menggantungkan harapan pada dorongan singkat O’Neill
Situasi Celtic sempat tampak berat setelah kekalahan dari Dundee United di Tannadice membuat mereka tertinggal lima poin dengan tujuh pertandingan tersisa. Ketika itu Rangers masih berada di posisi kedua, sehingga ruang untuk terpeleset nyaris tidak ada.
O’Neill menilai timnya membutuhkan tujuh kemenangan untuk tetap menjaga peluang. Dari target itu, Celtic sudah menuntaskan enam, dan kini semua arah kembali menuju laga pamungkas yang akan menentukan nasib mereka.
Pelatih berusia 74 tahun itu menjadi pusat perhatian karena kembali dari masa pensiun bukan sekali, melainkan dua kali pada musim ini. Celtic memanggilnya saat membutuhkan respons cepat, dan langkah itu langsung memberi hasil lewat lima kemenangan liga beruntun.
Kebangkitan singkat itu membuat Celtic mampu menyamai Hearts, meski mereka masih memiliki satu pertandingan lebih banyak. Kondisi tersebut membuat pekan terakhir berubah menjadi panggung penuh tekanan, di mana setiap hasil dapat langsung memengaruhi perebutan gelar.
Jejak lama O’Neill kembali jadi bagian dari harapan Celtic
Nama O’Neill membawa bobot besar karena rekam jejaknya bersama Celtic Park memang kuat. Pada periode pertamanya di klub antara 2000 hingga 2005, ia meraih tujuh trofi, termasuk tiga gelar liga.
Pengalaman itu kini kembali ikut dibawa ke momen paling krusial musim ini. Celtic berharap karakter dan ketenangan yang pernah ia tunjukkan dulu bisa kembali membantu tim menutup musim dengan hasil terbaik.
Situasi ini juga terasa istimewa karena O’Neill sudah lebih dari enam tahun tidak menangani tim ketika mendapat panggilan darurat untuk menggantikan Rodgers. Meski lama absen, ia tetap mampu memberi respons cepat dan menjaga peluang Celtic tetap hidup sampai pekan terakhir.
Hearts datang dengan struktur yang lebih stabil
Hearts tidak kalah kuat dari sisi pengalaman. Derek McInnes memimpin tim dengan bekal perjalanan panjang di sepak bola Skotlandia, termasuk saat finis di posisi kesembilan bersama Kilmarnock musim lalu, dua tingkat di bawah Hearts.
Rekam jejak McInnes di Aberdeen juga menegaskan kapasitasnya. Ia tiga kali finis sebagai runner-up di belakang Celtic, sesuatu yang menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa berada dalam persaingan papan atas.
Meski koleksi trofinya tidak sebesar milik O’Neill, McInnes tetap membawa bobot tersendiri dalam laga seperti ini. Pertemuan dua pelatih berpengalaman membuat perebutan gelar terasa seperti adu ketenangan selain adu kualitas tim.
Dukungan dari Tynecastle menambah lapisan tekanan
Hearts juga memiliki sosok senior yang ikut memberi arah dari luar lapangan. Sir Alex Ferguson disebut memberi bimbingan kepada McInnes, dan pengaruhnya masih terasa kuat di Tynecastle.
Ferguson, yang menjadi orang terakhir yang mematahkan dominasi Old Firm, masih kerap terlihat mengenakan dasi merah marun di Tynecastle. Ia juga disebut rutin berkomunikasi dengan pelatih Hearts, menambah rasa percaya diri di kubu tersebut menjelang laga penentuan.
Dengan situasi itu, duel terakhir bukan hanya soal siapa yang paling siap secara taktik. Celtic membawa dorongan dari kebangkitan cepat O’Neill, sementara Hearts bertumpu pada struktur dan pengalaman McInnes yang diperkuat dukungan senior di belakangnya.
Source: www.bbc.com






