Ongkos CNG Disebut Bisa Turun 30%–40%, Kandidat Kuat Pengganti LPG 3 Kg

Peluang CNG masuk ke dapur rumah tangga kini makin diperhatikan karena ongkosnya disebut bisa lebih rendah 30%–40% dibanding LPG 3 kilogram. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengembangan CNG dalam tabung 3 kilogram masih dalam tahap perencanaan, tetapi dinilai punya potensi besar.

Minat terhadap CNG bukan hanya datang dari soal biaya. Bahan bakar ini berbasis gas bumi dalam negeri, sehingga ikut menguatkan arah kebijakan energi yang lebih mandiri.

Apa sebenarnya CNG

CNG adalah singkatan dari compressed natural gas, yaitu gas alam yang dimampatkan pada tekanan sangat tinggi. Tekanan penyimpanan ini umumnya di atas 200 bar agar gas menjadi lebih padat dan mudah dipindahkan.

Kementerian Keuangan menjelaskan CNG sebagai bahan bakar gas dari gas bumi dengan kandungan utama metana. Gas ini disimpan dalam bejana bertekanan khusus sehingga dapat digunakan dan didistribusikan dengan lebih praktis, termasuk untuk kendaraan.

Secara alami, gas bumi berisi campuran hidrokarbon seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, metana menjadi komponen paling dominan dan dapat melampaui 95%.

Bedanya dengan LPG dan LNG

CNG sering dibandingkan dengan LPG karena sama-sama bisa dipakai sebagai sumber energi. Namun, keduanya berbeda dalam bentuk penyimpanan dan karakter bahan bakarnya.

LPG merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair. Sementara itu, CNG tetap berbentuk gas, hanya saja dimampatkan pada tekanan tinggi agar mudah disimpan.

LNG juga berasal dari gas alam, tetapi prosesnya berbeda lagi karena gas didinginkan hingga suhu sangat rendah sampai berubah menjadi cair. Perbedaan ini membuat masing-masing bahan bakar memerlukan infrastruktur distribusi dan penyimpanan yang tidak sama.

Karena itu, pembahasan soal CNG untuk rumah tangga tidak cukup berhenti pada jenis energinya. Kesiapan sistem pendukung menjadi bagian penting agar bahan bakar ini bisa benar-benar digunakan luas oleh masyarakat.

Mengapa dianggap menarik untuk rumah tangga

Salah satu daya tarik utama CNG ada pada potensi efisiensi biaya. Bahlil Lahadalia menyebut ongkosnya bisa lebih murah 30%–40% dibanding LPG 3 kilogram.

Bagi pemerintah, angka itu membuat CNG layak dipertimbangkan sebagai alternatif energi rumah tangga. Selain lebih ekonomis, bahan bakunya juga berasal dari sumber domestik yang mendukung kemandirian energi nasional.

Dalam konteks kebijakan energi, pemanfaatan gas bumi dalam negeri menjadi nilai tambah tersendiri. Karena itu, CNG dipandang sebagai salah satu opsi dalam strategi efisiensi energi jangka panjang.

Sudah dipakai di sektor lain

CNG sebenarnya bukan teknologi baru. Bahan bakar ini sudah lama digunakan di sektor transportasi karena dinilai efisien.

Pemakaiannya juga sudah masuk ke sektor industri untuk mendukung berbagai proses produksi. Selain itu, pemerintah mencatat CNG telah digunakan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur dalam program Makan Bergizi Gratis.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa CNG sudah memiliki ruang pemanfaatan yang nyata. Dengan kata lain, pembahasannya sebagai pengganti LPG bukan datang dari nol, melainkan dari penggunaan yang sudah lebih dulu berjalan di beberapa sektor.

Tantangan sebelum benar-benar masuk ke dapur warga

Meski peluangnya terbuka, pengembangan CNG untuk rumah tangga masih menyisakan pekerjaan teknis dan kebijakan. Tahap perencanaan yang sedang berjalan menandakan bahwa sistem distribusi dan infrastrukturnya belum selesai disiapkan.

Hal ini penting karena penggunaan di rumah tangga menuntut kemudahan akses dan keamanan yang memadai. Tanpa dukungan itu, potensi CNG sebagai alternatif LPG akan sulit dirasakan langsung oleh masyarakat.

Meski begitu, arah pembahasannya sudah jelas mengarah pada energi yang lebih hemat dan berbasis sumber daya dalam negeri. Jika pengembangannya berjalan optimal, CNG bisa menjadi salah satu pilihan baru dalam kebutuhan energi rumah tangga.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait