Kecerdasan buatan membuat jarak antara ruang kuliah dan kebutuhan industri terasa semakin pendek. Di saat yang sama, perubahan itu ikut memicu kekhawatiran baru di rumah karena orang tua harus menebak secepat apa anak mereka mampu mengikuti dunia kerja yang terus bergeser.
Bagi perguruan tinggi, tantangannya kini bukan lagi sekadar mengajar teori. Kampus dituntut memberi pengalaman belajar yang benar-benar relevan agar lulusan tidak tertinggal saat pasar kerja berubah lebih cepat daripada pola pendidikan lama.
Fredy Purnomo, Campus Director BINUS University Semarang, menilai efektivitas pendidikan tinggi sekarang diukur dari dampak yang terasa selama masa studi. Ia melihat kampus perlu ikut memitigasi risiko pengangguran terdidik ketika banyak pekerjaan baru muncul akibat ledakan AI.
Menurut Fredy, persoalan yang muncul bukan hanya soal penggunaan perangkat lunak atau otomasi. Yang lebih besar adalah laju transformasi dunia kerja yang bergerak sangat cepat, sehingga kurikulum dan kesiapan digital menjadi penentu penting dalam perjalanan dari bangku kuliah ke dunia profesional.
Ia juga menyoroti bahwa mahasiswa perlu memahami cara teknologi dipakai dalam praktik industri. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengenal konsep di kelas, tetapi juga siap menghadapi perubahan peran kerja yang terus terjadi.
Kecemasan ikut bergeser ke keluarga
Perubahan di dunia kerja ternyata tidak hanya terasa di kampus. Di rumah, orang tua ikut merasakan tekanan karena harus memahami risiko ketidakpastian karier dan perubahan industri yang datang dengan cepat.
Garry Collins Brata Winardy, psikolog sekaligus Faculty Member BINUS University, menyebut rasa takut terhadap perubahan sebagai respons yang manusiawi. Namun, kecemasan itu dapat berkurang jika orang tua dan calon mahasiswa melatih kemampuan berpikir kritis serta membiasakan diri menggunakan alat baru.
Garry menilai era AI memang terasa lebih kompleks dibanding sebelumnya. Menurut dia, ketakutan sering muncul dari proses penyesuaian, tetapi kekhawatiran itu bisa berubah menjadi kesiapan yang lebih produktif saat seseorang mengikuti perkembangan teknologi.
Ia juga menekankan perlunya komunikasi yang lebih terbuka antara orang tua dan anak. Pola hubungan yang semula cenderung satu arah perlu bergeser menjadi ruang negosiasi yang memberi anak kesempatan membangun pendapat dan kesiapan dirinya.
Kurikulum dituntut lebih dekat dengan dunia nyata
Di tengah perubahan itu, data yang disampaikan Fredy menunjukkan career mismatch di tingkat nasional masih berada pada kisaran 35%–36%. Sementara itu, proyeksi global memperkirakan sekitar 22% struktur pekerjaan akan mengalami pergeseran signifikan pada 2030.
Angka tersebut memperkuat alasan mengapa kampus perlu bergerak lebih cepat. Pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengejar kelulusan, tetapi juga harus memastikan mahasiswanya siap menghadapi pasar kerja yang berubah.
Fredy menilai kesiapan digital menjadi salah satu bekal utama dalam transisi itu. Karena itu, kampus perlu lebih terhubung dengan kebutuhan industri agar pengalaman belajar tidak berhenti di ruang kelas.
Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan keluarga yang mulai menimbang ulang arti sukses pendidikan. Orang tua kini tidak hanya melihat nilai akademis, tetapi juga kemampuan adaptasi, pemahaman teknologi, dan keberanian mencoba hal baru.
Orang tua melihat dampaknya pada anak
Andi Purnama Hardjani, salah satu orang tua mahasiswa, menilai adaptasi teknologi sudah menjadi kebutuhan utama. Sebagai orang tua yang juga bergerak di industri kreatif, ia melihat perubahan dunia berlangsung sangat cepat dan menuntut kesiapan yang nyata.
Andi berharap anaknya tidak hanya belajar di lingkungan yang unggul secara akademis. Ia juga ingin pendidikan yang diterima benar-benar membekali anak untuk menghadapi industri yang dinamis dan penuh perubahan.
Menurut dia, kurikulum yang aktif mendorong mahasiswa berkreasi dan berinovasi memberi dampak yang terasa langsung. Anak tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga membangun karakter, memperluas cara pandang, dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Andi bahkan melihat perubahan pada diri anaknya cukup jelas. Komunikasi yang lebih terstruktur dan pola pikir yang lebih terbuka menjadi tanda bahwa pengalaman belajar yang tepat dapat memberi pengaruh lebih dalam daripada sekadar angka akademis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya mengubah cara kerja, tetapi juga cara keluarga menilai kesiapan anak menghadapi masa depan. Perguruan tinggi, orang tua, dan mahasiswa sama-sama sedang menyesuaikan diri agar teknologi tidak menjadi sumber jarak, melainkan alat untuk memperkuat daya pikir, kreativitas, dan kesiapan kerja.
Source: teknologi.bisnis.com






