Bekerja Tanpa Henti Bisa Menguras Energi, Otak Menilai Biaya di Baliknya

Jadwal yang padat tidak otomatis menunjukkan seseorang bekerja secara produktif. Otak justru terus menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sepadan dengan manfaat dari suatu pekerjaan.

Penilaian tersebut dapat menjelaskan mengapa tugas tertentu terasa sangat berat, meski terlihat sederhana bagi orang lain. Sebaliknya, seseorang dapat bertahan mengerjakan aktivitas yang menuntut ketika hasil akhirnya dianggap penting.

Produktivitas karena itu tidak hanya berkaitan dengan jumlah pekerjaan yang diselesaikan dalam sehari. Kemampuan menentukan prioritas dan menyediakan waktu pemulihan juga menjadi bagian dari penggunaan energi yang efektif.

Usaha Besar Tidak Selalu Dihindari

Manusia tidak selalu memilih kegiatan yang paling mudah atau paling ringan. Berlatih maraton, mendaki gunung, dan mempelajari keterampilan baru dapat tetap dilakukan selama berjam-jam karena memberi pengalaman, pembelajaran, atau pencapaian yang bermakna.

Temuan pada anak-anak juga memperlihatkan bahwa tantangan dapat memberikan kepuasan tersendiri. Menurut laporan lifestyle.kompas.com, anak berusia enam tahun dalam salah satu studi lebih banyak tersenyum setelah menuntaskan tugas sulit daripada tugas mudah.

Anak-anak itu juga tampak lebih menikmati tantangan baru dibanding hanya mengulang pekerjaan yang sama. Hal ini mengisyaratkan bahwa usaha terasa lebih layak saat kemajuan yang diperoleh dapat dirasakan dengan jelas.

Delapan Pertimbangan Sebelum Bertindak

Otak tidak hanya mempertimbangkan keinginan saat memutuskan untuk memulai atau meneruskan suatu tugas. Ada sejumlah biaya usaha yang diperkirakan, mulai dari tenaga fisik hingga risiko yang dapat memicu kecemasan.

Jenis Biaya UsahaPertimbangan Otak
Energi metabolikTenaga yang perlu dikeluarkan tubuh
Beban berpikirKebutuhan kendali kognitif untuk menyelesaikan tugas
WaktuDurasi hingga pekerjaan selesai
Tekanan waktuUrgensi atau desakan untuk segera bertindak
KelelahanPotensi lelah fisik maupun mental
Rasa sakitKemungkinan ketidaknyamanan atau nyeri
Frustrasi dan peluang hilangKonsekuensi memilih satu aktivitas
Risiko dan ancamanHal yang dapat memicu kecemasan

Waktu dan tenaga fisik dapat diperkirakan secara lebih nyata, tetapi beberapa biaya lain bersifat personal. Beban berpikir, frustrasi, serta risiko bisa dirasakan berbeda sesuai kondisi tubuh, situasi, dan nilai hasil akhir bagi tiap orang.

Prinsip Menghemat Energi

Penelitian psikolog Nathalie André bersama tim dari Universitas Poitiers, Perancis, yang dimuat dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews pada 2026, membahas kemampuan memilih saat berusaha dan beristirahat sebagai strategi adaptif manusia. Kajian tersebut menempatkan pengelolaan tenaga bukan sebagai tanda kemalasan, melainkan bagian dari cara tubuh bertahan dan bekerja secara efisien.

Dalam ilmu saraf komputasional, ada principle of least effort atau prinsip usaha seminimal mungkin. Ketika dua pilihan menghasilkan manfaat yang sama, otak cenderung memilih cara yang membutuhkan energi lebih rendah.

Namun, prinsip itu tidak berarti manusia selalu menghindari kerja keras. Melalui teori active inference, otak dipahami membuat perkiraan tentang nilai informasi, imbalan, pembelajaran, atau pencapaian yang mungkin diperoleh dari suatu aktivitas.

Jika manfaat tugas dinilai lebih besar daripada biayanya, dorongan untuk menyelesaikannya dapat meningkat. Sebaliknya, pekerjaan yang hasilnya terasa tidak berarti akan lebih mudah membuat otak memilih menghemat energi.

Kerangka allostasis juga memandang tubuh sebagai sistem yang mengatur sumber daya sesuai kebutuhan. Dalam konteks ini, jeda yang diambil pada waktu tepat dapat mendukung Manajemen Energi dan menjaga tenaga untuk pekerjaan yang benar-benar bernilai.

Berita Terkait