Pasar mobil ramah lingkungan di China memasuki fase yang lebih berat setelah sejumlah insentif mulai menyusut. Dampaknya paling terasa pada PHEV, EREV, dan kendaraan listrik komersial yang disebut bakal kehilangan pembebasan pajak mulai awal tahun depan.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa harga jual mobil ramah lingkungan akan ikut terdorong naik. Di saat yang sama, konsumen juga semakin sensitif terhadap perubahan harga, sehingga ruang gerak produsen tidak lagi seluas sebelumnya.
BEV Masih Punya Napas Lebih Panjang
Di tengah perubahan kebijakan itu, BEV penumpang masih mendapat keringanan pajak untuk beberapa tahun ke depan. Artinya, kendaraan listrik murni masih memiliki ruang bertahan yang lebih baik dibanding model hybrid plug-in.
Berbeda dengan PHEV, BEV tidak memiliki kapasitas mesin seperti model hybrid tersebut. Karena itu, beban aturan pajak yang mengintai PHEV tidak langsung menekan segmen BEV dengan cara yang sama.
| Jenis Kendaraan | Status Insentif | Dampak |
|---|---|---|
| BEV penumpang | Masih mendapat keringanan pajak beberapa tahun ke depan | Masih punya ruang bertahan di pasar |
| PHEV, EREV, REEV | Rencana tidak dibebaskan dari pajak mulai 2027 | Berpotensi dibanderol lebih mahal |
| Kendaraan komersial listrik dan FCEV | Masuk dalam kebijakan tanpa pembebasan pajak | Ikut terdampak perubahan aturan |
Penjualan Domestik Mulai Tertekan
Perubahan insentif itu turut terasa pada penjualan beberapa produsen besar. Menurut ridertua.com, masa bebas pajak sudah tidak berlaku lagi sejak awal tahun ini dan pasar mulai menunjukkan tekanan.
BYD menjadi salah satu contoh yang paling terlihat. Penjualan Mei turun menjadi 22 persen dari tahun lalu pada periode yang sama, meski ekspor pada bulan itu justru meningkat.
Produsen Beralih Mencari Tenaga dari Luar Negeri
Ketika pasar domestik melambat, sejumlah merek mulai memperbesar peran pasar luar negeri. BYD mencatat performa ekspor yang lebih kuat, bahkan total penjualan globalnya disebut lebih baik daripada penjualan di dalam negeri.
Geely juga mengambil jalur serupa dengan memperluas penjualan model unggulannya ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan mobil listrik China belum mereda, tetapi fase pertumbuhannya tidak lagi semudah sebelumnya.
Sejumlah produsen masih dapat mengandalkan diskon, model baru, dan penyegaran produk untuk menjaga daya tarik pasar. Namun, arah kebijakan pajak yang mulai berubah membuat segmen PHEV dan kendaraan terkait harus menghadapi tekanan yang semakin nyata.







