Panggung Venesia Jadi Ruang Tubuh Melayu, Under the Volcano Bawa Teater Indonesia ke Arena Dunia

Keikutsertaan Under the Volcano di Biennale Teatro Venezia 2026 menempatkan teater Indonesia dalam percakapan internasional dengan cara yang tidak biasa. Karya ini datang membawa pendekatan tubuh, tradisi Melayu, dan pembacaan sosial yang menempatkan manusia serta alam sebagai satu relasi yang tak terpisahkan.

Di Venesia, pertunjukan ini tidak sekadar hadir sebagai karya panggung dari Indonesia. Under the Volcano juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa seni pertunjukan Indonesia memiliki bahasa sendiri yang bisa dibaca ulang di panggung global.

Tubuh jadi pusat pertunjukan

Berbeda dari teater yang bertumpu pada dialog panjang, Under the Volcano menjadikan ekspresi fisik sebagai bahasa utama. Pendekatan itu menuntut para pemain memahami tubuh secara lebih mendalam, karena gerak menjadi penopang utama cerita dan gagasan.

Salah satu pemain, Indra Jaya, mengakui proses latihannya mengharuskannya membaca tubuh dengan serius. Ia menyebut pertunjukan ini sebagai teater yang lebih dominan tubuh daripada dialog.

Bagi Indra, tantangan lain muncul karena ia berasal dari Makassar, sementara dasar gerak yang dipelajari bersumber dari budaya Minangkabau. Karena itu, ia mempelajari silat Minangkabau sebagai pintu masuk untuk memahami pola tubuh masyarakat setempat.

Latihan yang bertumpu pada pengamatan

Arahan sutradara Yusril membuat proses latihan tidak berhenti di ruang latihan semata. Para pemain didorong untuk melihat kehidupan sehari-hari secara langsung agar tubuh yang mereka bawa ke panggung punya kaitan dengan realitas sosial.

Indra bahkan diminta datang ke Padang Panjang untuk mengamati cara masyarakat berinteraksi di ruang sosial mereka. Ia juga melakukan observasi dengan berjalan kaki mengelilingi wilayah itu.

Dari proses tersebut, ia menangkap atmosfer sosial dan geografis yang ikut membentuk bangunan pertunjukan. Latihan pun berkembang menjadi kerja artistik yang menyerap konteks hidup masyarakat, bukan hanya penguasaan gerak.

Jejak karya yang panjang

Under the Volcano terinspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang terbit pada 1883. Produksinya mulai dikembangkan sejak 2014 dan kini memasuki generasi ketiga pemain.

Pergantian pemain dalam perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa karya ini terus diperbarui. Meski begitu, sumber inspirasinya tetap dijaga sebagai fondasi utama pertunjukan.

Membawa tradisi Indonesia ke panggung dunia

Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, menilai keikutsertaan ini bukan sekadar kesempatan tampil di festival luar negeri. Menurut dia, ajang tersebut juga menjadi ruang untuk memperlihatkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia kepada dunia.

Restu juga menyoroti tema Biennale Teatro Venezia 2026, yaitu Alternative Native, yang berbicara tentang alternatif dan perubahan di tengah dunia yang bergejolak. Ia melihat tema itu membuka ruang penting bagi tradisi Indonesia, terutama karena Asia Tenggara dan budaya Melayu masih kerap kurang mendapat tempat dalam peta teater internasional.

Ia menyebut dominasi budaya populer dari China, Jepang, dan Korea Selatan membuat Indonesia belum banyak terlihat. Namun, menurut dia, Indonesia justru menyimpan kekuatan budaya yang besar dan relevan untuk dibaca ulang.

Melayu, alam, dan tubuh dalam satu panggung

Bagi tim artistik, akar budaya Melayu yang hidup di Indonesia juga menjadi unsur yang ingin dilihat kurator festival tahun ini. Karena itu, Under the Volcano hadir bukan hanya sebagai pertunjukan teater, tetapi sebagai tawaran cara pandang tentang hubungan manusia, tubuh, budaya, dan alam.

Karya ini menegaskan bahwa bencana alam tidak diposisikan sebagai latar semata. Sebaliknya, bencana dilihat sebagai bagian dari kehidupan bersama lingkungan yang ikut membentuk cara manusia merespons peristiwa.

Di Venesia, teater Indonesia hadir sebagai suara yang membawa tradisi lokal ke ranah pembacaan dunia. Dalam karya ini, tubuh Minang, tradisi Melayu, dan pembacaan sosial bertemu dalam satu panggung yang menawarkan cara pandang berbeda tentang Indonesia.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait