Pangkalan Bulan NASA Siap Dibangun, Rp 325 Triliun Disiapkan untuk Kota Modular 2032

NASA menyiapkan perubahan besar pada ambisi manusia di Bulan dengan rencana membangun pangkalan permanen bernilai sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 325 triliun. Target akhirnya bukan lagi pos singgah sementara, melainkan kawasan yang terus berkembang menjadi jaringan modular di permukaan Bulan.

Langkah itu dimulai dari fasilitas kecil yang dibawa dari Bumi dalam bentuk struktur lipat atau modul portabel. Setelah mendarat, komponen tersebut akan dirakit di lokasi dan diperluas bertahap sesuai kebutuhan misi, riset, dan logistik.

Dari pangkalan kecil ke tata kota modular

Rancangan awal NASA tidak langsung berbentuk permukiman besar. Tahap pertama justru berfokus pada dasar-dasar yang bisa dibangun cepat, lalu ditingkatkan menjadi kompleks yang lebih mandiri.

Dalam gambaran jangka panjang, kamp kecil itu akan tumbuh menjadi jaringan modular di permukaan Bulan. Area hunian, fasilitas operasi, dan zona pendukung lain diproyeksikan menyebar agar fungsi pangkalan makin beragam.

Tiga fase pembangunan yang sudah disiapkan

Administrator NASA Jared Isaacman menjelaskan bahwa proyek ini dibagi ke dalam tiga fase. Tahap awal berlangsung dari sekarang hingga 2029 dan diarahkan untuk pengintaian wilayah Kutub Selatan Bulan.

Pada fase ini, NASA menargetkan hingga 21 misi pendaratan tanpa awak. Robot dan drone helikopter bernama MoonFall akan dipakai untuk memetakan cadangan air es dan mencari lokasi yang paling aman untuk pemukiman.

Fase berikutnya dijadwalkan pada 2029 hingga 2032. Di periode ini, manusia pertama akan tiba untuk mulai membangun infrastruktur penting, termasuk pembangkit listrik tenaga surya skala besar dan modul hunian awal.

Bekal hidup untuk para perintis

NASA juga menyiapkan pengiriman logistik dalam jumlah besar untuk mendukung tahap awal kehidupan di Bulan. Total sekitar 60 ton kargo akan dikirim bertahap melalui puluhan penerbangan roket.

Pengiriman itu dirancang untuk menunjang kebutuhan hidup para perintis di lingkungan yang sangat keras. Dukungan tersebut menjadi penting karena pangkalan Bulan harus mampu berdiri dengan sistem yang lebih mandiri dibanding pos riset biasa.

Tantangan lingkungan yang jauh lebih berat

Pakar ilmu luar angkasa dari Open University, Dr Simeon Barber, membandingkan rancangan ini dengan stasiun penelitian di Antartika. Namun, ia menekankan bahwa kondisi Bulan jauh lebih ekstrem karena seluruh kebutuhan hidup harus dikelola di tempat yang terisolasi.

Di Bulan, suhu dapat melonjak hingga 100 derajat celsius pada siang hari dan turun sampai -100 derajat celsius pada malam hari. Selain itu, radiasi kosmik, hujan mikrometeorit, dan debu Bulan atau regolit menjadi ancaman yang harus dihadapi sekaligus.

Hunian ringan, kuat, dan terlindungi regolit

Untuk menjawab tantangan itu, Profesor Mahesh Anand mengusulkan penggunaan tenda tiup mandiri atau inflatable tent. Struktur ini dinilai cocok karena ringan saat dilipat, tetapi kuat setelah mengembang di permukaan Bulan.

Setelah dipasang, tenda tersebut akan ditimbun dengan tanah gembur Bulan atau regolit. Lapisan itu berfungsi sebagai pelindung alami dari meteorit dan bahaya lain yang ada di permukaan Bulan.

Energi stabil dan pembangunan yang makin luas

Perubahan besar pada sistem pangkalan diperkirakan terjadi pada 2029 saat NASA mengintegrasikan reaktor nuklir mini berdaya 40 kilowatt. Reaktor itu akan dibawa dari Bumi dalam keadaan nonaktif lalu dihidupkan otomatis setelah tiba di lokasi.

Demi keselamatan, reaktor akan ditanam jauh di dalam tanah atau ditempatkan beberapa mil dari zona hunian utama. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas listrik sekaligus meminimalkan risiko kebocoran radiasi.

Pasokan listrik yang stabil membuka jalan bagi ekstraksi material lokal atau in-situ extraction. NASA juga sedang mematangkan teknologi robotik yang bisa melelehkan debu Bulan dengan sinar laser, lalu mencetak batu bata superkuat seperti printer 3D raksasa.

Jika semua tahap berjalan sesuai rencana, pangkalan itu akan berkembang menjadi kawasan yang tersebar luas. Zona hunian, laboratorium sains, dan area industri tambang akan dipisahkan di berbagai titik, sehingga membentuk tata kota luar angkasa yang lebih kompleks dan mandiri.

Pada fase operasional penuh, kehidupan di Bulan juga disiapkan dengan jadwal rotasi kru, ruang olahraga untuk menjaga tulang dari efek gravitasi rendah, serta area rekreasi untuk kesehatan mental. Dengan begitu, pangkalan itu tidak lagi diperlakukan sebagai tempat singgah singkat, melainkan sebagai rumah kerja jangka panjang di permukaan Bulan.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait