Pangsa pasar Xiaomi di India kini hanya tersisa 12% pada kuartal I 2026, jauh dari posisi puncaknya yang sempat menembus lebih dari 30% pada 2018. Penurunan tajam itu membuat perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan bisnis, tetapi juga dorongan untuk segera merapikan strategi di salah satu pasar terpentingnya.
Di tengah kondisi tersebut, Xiaomi melakukan pergantian pimpinan untuk bisnis India. Menurut Economic Times, perusahaan menunjuk Alexander Tang untuk memimpin operasi di negara itu, menggantikan Alvin Tse yang telah memimpin Xiaomi India sejak 2022.
Perubahan ini muncul ketika persaingan di pasar smartphone India makin padat. Vivo, Samsung, Motorola, dan Realme disebut sebagai rival yang ikut menekan posisi Xiaomi, sehingga ruang untuk mempertahankan keunggulan lama menjadi semakin sempit.
India tetap punya bobot besar bagi Xiaomi. Selama bertahun-tahun, negara ini menjadi fondasi penting bagi volume penjualan global dan posisi merek di segmen smartphone mass market.
Karena itu, turunnya pangsa pasar di India membawa dampak yang lebih luas dari sekadar angka penjualan. Saat visibilitas merek dan daya saing produk ikut tertekan, distribusi juga menjadi area yang perlu dijaga lebih ketat.
Data Counterpoint menunjukkan posisi Xiaomi terus melemah dalam beberapa periode terakhir. Dari 15% pada kuartal IV 2026, pangsa pasar itu turun lagi menjadi 12% pada kuartal I 2026.
Alexander Tang datang dengan bekal pengalaman di pasar berkembang. Sebelum ditunjuk menangani India, ia mengelola operasi Xiaomi di beberapa wilayah Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia.
Di wilayah tersebut, Xiaomi disebut mencatat pertumbuhan yang kuat. Rekam jejak itu membuat Tang dinilai relevan untuk membawa perusahaan masuk ke fase baru di India.
Karakter tantangan di India dan Asia Tenggara juga dinilai mirip. Sensitivitas harga, kebutuhan distribusi yang luas, dan persaingan ketat menjadi pola yang sama-sama kuat di kedua kawasan.
Penunjukan ini memberi sinyal bahwa Xiaomi ingin lebih fokus pada eksekusi pasar. Dalam kondisi seperti ini, kecepatan membaca kebutuhan konsumen dan menyesuaikan strategi bisa menjadi pembeda utama.
Pergantian di level pimpinan juga menunjukkan perusahaan memilih langkah penyegaran setelah hasil pasar tidak lagi sekuat sebelumnya. Alvin Tse telah memimpin Xiaomi India sejak 2022, dan kini tanggung jawab itu berpindah ke Tang.
Di sisi lain, tekanan di pasar smartphone disebut semakin berat akibat krisis RAM yang sedang berlangsung. Dalam situasi seperti itu, menjaga harga tetap menarik sambil tetap menawarkan spesifikasi kompetitif menjadi tantangan yang makin rumit.
Xiaomi kini perlu melakukan lebih dari sekadar menahan penurunan. Perusahaan juga harus mengembalikan relevansi mereknya di mata konsumen India, yang sekarang memiliki lebih banyak pilihan di pasar.
Source: gadgets.beebom.com






