Paparan Konten Seksual Di Medsos Meluas, Komdigi Perkuat Perlindungan Anak Digital

Author: Redaksi Android62

Perlindungan anak di ruang digital kini menjadi perhatian yang semakin mendesak setelah Komdigi menyoroti tingginya paparan konten bermuatan seksual di media sosial. Dari sekitar 80 juta anak, 50,3% disebut sudah terpapar konten semacam itu, sementara 48% mengalami kekerasan gender berbasis online.

Angka tersebut membuat ruang digital dipandang bukan lagi sekadar tempat anak mengakses hiburan atau informasi. Di saat yang sama, media sosial juga menjadi ruang yang sulit dibatasi sepenuhnya, sehingga anak termasuk kelompok yang paling rentan menghadapi konten berbahaya dan interaksi yang berisiko.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menilai masalah ini tidak berhenti pada paparan konten saja. Ia melihat dampaknya dapat merembet ke kebiasaan, karakter, dan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari jika tidak ada pengawasan yang memadai.

Dua jenis risiko yang disorot

Alfreno menjelaskan ada dua ancaman utama yang perlu diwaspadai, yaitu risiko konten dan risiko kontak. Risiko konten muncul saat anak bertemu materi yang tidak sesuai usia, sedangkan risiko kontak terjadi ketika anak berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal di media sosial atau platform digital lainnya.

Keduanya dinilai berbahaya karena anak sering kali belum memahami batas risiko yang mereka hadapi. Dalam situasi tertentu, interaksi seperti itu juga dapat membuka pintu bagi informasi buruk, termasuk radikalisme, serta berujung pada pelecehan anak.

Aturan baru untuk memperkuat perlindungan

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat perlindungan anak di dunia digital yang semakin kompleks.

Komdigi menegaskan bahwa PP TUNAS tidak dirancang untuk menahan kreativitas anak muda. Aturan ini diarahkan agar anak dan remaja tetap memiliki ruang untuk berkembang, sambil mampu mengenali risiko yang muncul di ruang digital.

Peran keluarga tetap penting

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, pendampingan dari orang tua dan lingkungan terdekat dinilai tetap krusial. Tanpa pengawasan yang memadai, anak bisa lebih mudah bersentuhan dengan konten yang tidak sesuai usianya.

Pemerintah juga ingin memastikan ruang digital tidak berubah menjadi tempat yang mudah dimasuki konten berbahaya dan kontak yang mengancam keselamatan anak. Di saat yang sama, anak muda tetap diharapkan bisa terus berkarya tanpa kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah di dunia digital.

Source: teknologi.bisnis.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru