Bukan cuma harga Bitcoin yang sedang tertekan. Di balik pasar yang melemah, ada penyaringan besar terhadap jutaan token kripto yang sebelumnya lahir dengan janji besar, tetapi kini tak lagi punya aktivitas yang cukup untuk bertahan.
Data terbaru menunjukkan hanya sebagian kecil token yang masih benar-benar hidup secara ekonomi. Menurut laporan Delphi Digital, kurang dari 1.700 token masih menghasilkan aktivitas perdagangan harian yang berarti di bursa terdesentralisasi, padahal dalam beberapa tahun terakhir puluhan juta token telah dibuat.
Ledakan jumlah token ini terjadi karena pembuatan aset digital kini jauh lebih mudah. Jika dulu sebuah proyek harus membangun blockchain penuh, sekarang token bisa diterbitkan hanya dengan menerapkan kontrak standar.
Akibatnya, jumlah aset yang beredar membengkak sangat cepat, tetapi tidak semuanya mendapat pengguna, likuiditas, atau alasan keberadaan yang kuat. Banyak token akhirnya tersisih ketika modal mulai lebih selektif dan hanya mencari aset dengan fungsi yang jelas.
Penyisihan makin terasa di altcoin
Tekanan paling berat tidak berhenti di Bitcoin. Di banyak bagian pasar, altcoin justru terpukul lebih dalam selama berbulan-bulan, meski dampaknya tidak merata ke semua aset.
Thomas Probst, analis riset di Kaiko, menilai altcoin umumnya menderita lebih parah daripada Bitcoin belakangan ini. Salah satu contoh datang dari Zcash, yang sempat jatuh lebih dari setengah sejak 3 Juni setelah muncul laporan kemungkinan celah keamanan.
Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa pelemahan pasar tidak hanya berasal dari sentimen makro. Risiko teknis, isu keamanan, dan menurunnya minat perdagangan ikut mempercepat keluarnya token-token yang tidak lagi menarik bagi pasar.
Peringatan dari ekosistem besar
Charles Hoskinson, pendiri Cardano, ikut menyoroti situasi ini setelah sebuah platform analitik populer mengumumkan penutupan. Ia memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak proyek yang gagal, lebih banyak bisnis yang kehabisan dana, dan lebih banyak pengembang yang meninggalkan ekosistem.
Peringatan itu sejalan dengan gambaran yang terlihat di banyak proyek lama. Cardano, misalnya, mengalami penurunan jumlah pengembang penuh waktu aktif sebesar 32% sejak awal tahun menurut Developer Report dari Electric Capital.
Di saat yang sama, dana yang terkunci di aplikasi terdesentralisasi Cardano turun 35% pada periode yang sama menurut DeFi Llama. Token ADA milik Cardano juga telah turun sekitar 55% tahun ini menjadi sekitar 16 sen.
Modal hanya mengejar nilai yang lebih nyata
Sejumlah pelaku industri menilai fase ini sudah lama terakumulasi. Cosmo Jiang, manajer portofolio di Pantera Capital, mengatakan bahwa broad token universe di luar Ether dan Bitcoin telah mencapai puncaknya pada 2021 dan kini sedang mengalami penyaringan besar.
Menurut Jiang, masih ada banyak token dengan kapitalisasi pasar miliaran dolar yang tidak punya alasan kuat untuk tetap ada. Ia menilai pasar sedang bergerak ke penilaian yang lebih ketat terhadap nilai fundamental.
Perubahan itu juga terlihat dari arah aliran modal. Dana kini makin terkonsentrasi pada aset dan bisnis yang mampu menunjukkan penggunaan nyata, sementara banyak token lain tertinggal karena dianggap tidak memiliki proposisi nilai yang jelas.
Tekanan pasar makin luas
Saat token-token kecil berguguran, Bitcoin sendiri juga ikut memberi sinyal buruk ke seluruh pasar. Aset kripto terbesar itu sempat turun lebih dari 6% ke bawah $60.000 pada Jumat dan sudah melemah sekitar 17% sepanjang bulan ini ke level terendah yang tidak terlihat sejak 2024.
Tekanan tersebut datang dari berbagai arah sekaligus. Strategy Inc. milik Michael Saylor menjual sebagian Bitcoin, dana ETF Bitcoin terus mengalami arus keluar, dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga ikut membebani sentimen.
Di tengah kondisi itu, pasar aset digital secara keseluruhan juga terseret. Menurut data CoinGlass, lebih dari $1,7 miliar aset digital dilikuidasi dalam 24 jam hingga tengah hari Jumat.
Tidak semua bagian industri ikut tenggelam
Meski banyak token kehilangan tenaga, beberapa bagian industri kripto justru terus tumbuh dengan arah yang berbeda. Stablecoin semakin menancap dalam sistem pembayaran, sementara Tether berada di ambang menyalip Ether sebagai token terbesar kedua berdasarkan nilai pasar.
Wall Street juga mulai bereksperimen dengan aset yang ditokenisasi, dan bank membangun infrastruktur blockchain. Ironisnya, banyak token yang dulu dibuat untuk menangkap nilai dari masa depan justru sedang anjlok.
Di antara sedikit aset yang masih menarik minat, salah satu contoh yang disebut pasar adalah HYPE milik Hyperliquid. Token itu terkait dengan salah satu bursa derivatif dengan pertumbuhan tercepat di kripto, dan menjadi gambaran bahwa fungsi yang jelas kini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah token yang lahir.
