Pasukan Revolusioner di One Piece kini dipandang sebagai salah satu kekuatan paling berbahaya bagi Pemerintah Dunia karena sasaran mereka semakin jelas, yakni menghapus sistem yang menempatkan Bangsawan Dunia di atas hukum. Setelah markas Baltigo dihancurkan oleh kelompok bajak laut Blackbeard, organisasi ini juga memusatkan langkah dari Kerajaan Kamabakka untuk menghadapi babak akhir cerita.
Perubahan itu menunjukkan bahwa gerakan yang berawal dari kemarahan terhadap ketidakadilan telah berkembang menjadi organisasi dengan struktur militer yang rapi. Dari sisi narasi dunia One Piece, Pasukan Revolusioner bukan lagi sekadar kelompok penentang, melainkan ancaman yang langsung mengarah ke inti kekuasaan dunia.
Trauma Ohara Menjadi Titik Balik
Benih perlawanan Monkey D. Dragon menguat setelah Insiden Ohara, ketika para sarjana dibantai melalui Buster Call. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa Pemerintah Dunia tidak memberi ruang bagi pencarian kebenaran sejarah.
Mediaindonesia.com menuliskan bahwa Dragon sebelumnya pernah berada di lingkungan militer, yang diduga Angkatan Laut, sebelum keluar karena tidak menemukan keadilan di dalam sistem. Dari sana, penolakannya terhadap tatanan yang ada berubah dari kekecewaan pribadi menjadi gerakan politik yang lebih besar.
Awalnya Hanya Kelompok Kecil
Sebelum dikenal luas sebagai Pasukan Revolusioner, Dragon lebih dulu membentuk Tentara Pembebasan G-2 atau Freedom Fighters. Pada tahap awal, gerakan ini masih bersifat gerilya dan jangkauannya belum sebesar sekarang.
Emporio Ivankov dan Bartholomew Kuma kemudian ikut menyusun fondasi awal organisasi. Kuma membawa latar sebagai mantan raja Kerajaan Sorbet yang digulingkan, sehingga memberi sudut pandang langsung tentang penderitaan rakyat di bawah sistem upeti surgawi.
Struktur Organisasi yang Semakin Tertata
Perubahan nama menjadi Pasukan Revolusioner menandai pergeseran dari dukungan atas pemberontakan lokal menuju gerakan yang lebih sistematis. Kekuatan mereka dibagi ke dalam wilayah Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Grand Line.
| Posisi | Tokoh |
|---|---|
| Pemimpin Tertinggi | Monkey D. Dragon |
| Kepala Staf | Sabo |
| Komandan Pasukan Timur | Belo Betty |
| Komandan Pasukan Barat | Morley |
| Komandan Pasukan Selatan | Lindbergh |
| Komandan Pasukan Utara | Karasu |
| Komandan G (Grand Line) | Emporio Ivankov |
Sabo kemudian menjadi perekrutan penting setelah diselamatkan Dragon di Kerajaan Goa. Ia lalu naik menjadi Kepala Staf dan memperkuat posisi organisasi dalam berbagai operasi berikutnya.
Pasukan Revolusioner juga mengirim agen ke banyak negara untuk memicu revolusi internal di wilayah yang menderita di bawah tirani raja yang didukung Pemerintah Dunia. Dalam waktu lama, mereka beroperasi dari Baltigo yang tersembunyi dan sulit terdeteksi oleh intelijen Pemerintah Dunia.
Target di Saga Terakhir Makin Terang
Dengan terungkapnya sosok Imu di puncak takhta kosong, sasaran Pasukan Revolusioner kini mengerucut pada inti otoritas absolut itu. Arah perjuangan mereka tidak lagi sekadar melawan ketertiban lama, tetapi langsung menyasar sistem kasta yang menjaga Bangsawan Dunia tetap berada di atas hukum.
Karena itu, Pasukan Revolusioner kini diposisikan sebagai salah satu kekuatan paling penting dalam perang besar yang diperkirakan akan mewarnai akhir cerita One Piece. Dari trauma Ohara hingga pindah markas ke Kerajaan Kamabakka, perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana kemarahan terhadap ketidakadilan berubah menjadi ancaman nyata bagi dunia.
Source: mediaindonesia.com






