Patimban Siap Jadi Penopang Ekspor, Kapasitas Kendaraan dan Peti Kemasnya Terungkap

Pelabuhan Patimban kini menegaskan posisinya sebagai simpul baru logistik nasional dengan kapasitas terminal kendaraan mencapai 218 ribu unit per tahun dan terminal peti kemas 525 ribu TEUs. Fasilitas ini disiapkan untuk meredakan kepadatan Tanjung Priok sekaligus menopang arus industri di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Di terminal kendaraan, Patimban sudah konsisten menangani lebih dari 200 ribu kendaraan setiap tahun sejak mulai beroperasi pada 2022. Angka itu menunjukkan peran pelabuhan di Subang, Jawa Barat, ini makin penting dalam rantai ekspor otomotif nasional.

FasilitasKapasitasKeterangan
Terminal kendaraan218 ribu unit per tahunKapasitas yang sudah diserahterimakan dari Kementerian Perhubungan
Terminal peti kemas525 ribu TEUsKapasitas terpasang saat ini

CEO PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI) Fuad Rizal menjelaskan bahwa fungsi Patimban bukan sekadar menambah ruang bongkar muat. Pelabuhan ini diproyeksikan melengkapi Tanjung Priok yang sudah sangat padat, sambil mendukung pergerakan industri dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah.

Dalam operasional terminal, PPI bekerja sama dengan Patimban International Car Terminal (PICT) untuk terminal kendaraan dan Patimban Global Terminal (PGT) untuk terminal peti kemas. PPI juga telah berdiskusi dengan PGT mengenai rencana pembukaan rute langsung ke Eropa dan Amerika Serikat.

Kerja sama di terminal kendaraan berjalan dengan PCT, yang terdiri dari Toyota Tsusho, Toyofuji, NYK, dan Kamigumi. Fuad menilai kolaborasi itu masuk akal karena ekspor mobil Indonesia sekitar 70-75% berasal dari Toyota dan Daihatsu.

Selain kapasitas operasional, perhatian juga tertuju pada dampaknya terhadap kawasan industri. Kepala Perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia, Takeda Sachiko, menilai Patimban dibangun untuk mengatasi kepadatan logistik di sekitar Jakarta dan memperkuat jaringan ekspor kawasan industri di Jawa Barat.

Takeda menyebut banyak perusahaan Jepang di kawasan itu membutuhkan pelabuhan dengan akses logistik yang lebih efisien. Ia juga menilai Patimban sebagai salah satu proyek strategis nasional yang diharapkan mendorong pertumbuhan kawasan Rebana, yang mencakup Cirebon, Patimban, dan Kertajati.

Dalam pembiayaan proyek, JICA tercatat memberikan pinjaman total 272,5 miliar yen atau sekitar Rp 30,58 triliun, dengan kurs Rp 111, untuk Patimban. Dukungan itu memperlihatkan besarnya kepentingan pelabuhan ini dalam strategi logistik dan industri nasional.

Dengan kapasitas yang terus digunakan dan rencana perluasan konektivitas, Patimban diposisikan bukan hanya sebagai pelabuhan tambahan. Infrastruktur ini diarahkan menjadi penghubung penting bagi arus kendaraan, peti kemas, dan pertumbuhan kawasan industri di Jawa Barat serta Jawa Tengah.

Source: finance.detik.com
Berita Terkait