Pohon tertinggi di Asia Timur itu bukan hanya mencengangkan karena ukurannya, tetapi juga karena lokasi tumbuhnya yang menyimpan salah satu hutan karbon terpadat di dunia. Taiwania cryptomerioides bernama “Pedang Langit Sungai Da’an” menjulang 84,1 meter, atau lebih tinggi dari gedung bertingkat 20.
Di kawasan yang sama, penelitian pada 2024 menunjukkan densitas karbon mencapai 1.384,5 Mg per hektare. Angka itu menempatkan hutan Taiwan sebagai area penyimpanan karbon yang sangat padat, sejajar dengan hutan tua paling terkenal di muka bumi.
Perburuan yang memakan waktu lebih dari satu dekade
Temuan ini lahir dari kerja panjang tim yang menyebut diri mereka “pencari pohon Taiwan”. Mereka meneliti hutan-hutan terpencil selama lebih dari sepuluh tahun bersama pemanjat pohon profesional, ahli ekologi, geologi, dan spesialis penginderaan jauh.
Upaya resmi mereka dimulai pada Agustus 2014. Ekspedisi awal difokuskan ke kawasan konservasi Cilan dan menyasar kelompok pohon legendaris yang dikenal sebagai “Tiga Saudari Chilan”.
Salah satu pohon di kelompok itu tercatat setinggi 69,3 meter dengan diameter batang hampir tiga meter. Pohon tersebut sempat menarik perhatian internasional setelah didokumentasikan tim spesialis dari Australia pada 2017.
Medan berat, LiDAR, dan bantuan publik
Setelah penelusuran awal itu, tim bergerak ke wilayah yang lebih jauh dan lebih sulit dijangkau, termasuk area dekat Gunung Benya dan Danau Hantu Besar yang dianggap sakral oleh masyarakat adat setempat. Untuk sampai ke lokasi, para peneliti harus mendaki selama empat hari sambil membawa peralatan berat.
Pengukuran tinggi pohon di sana tidak mudah dilakukan dari permukaan tanah karena dedaunan rapat dan kontur yang curam. Tim kemudian mengandalkan teknologi LiDAR, pemindaian 3D yang menembakkan laser dari udara untuk memetakan medan dan tinggi pohon.
Namun, kondisi permukaan tanah Taiwan yang berlekuk dan curam membuat algoritma komputer kerap keliru, dengan tingkat kesalahan yang disebut mencapai 93%. Karena itu, sejak 2020 ratusan warga Taiwan ikut membantu meneliti data gambar hasil pemindaian, menyaring puluhan ribu data yang tidak akurat, dan menandai kandidat pohon tertinggi.
Kerja bersama itu melahirkan “Peta Pohon Raksasa Taiwan” pada akhir 2022. Peta tersebut mencatat ada 941 pohon dengan ketinggian lebih dari 65 meter yang tersebar di seluruh pulau.
Penemuan akhirnya mengarah ke pohon 84,1 meter
Bermodal peta tersebut, tim menemukan target utama pada Januari 2023. Perjalanan menuju lokasi sangat berat, dengan penelusuran aliran sungai sepanjang 20 kilometer dan pendakian lereng curam selama dua hari.
Setibanya di lokasi, peneliti memanjat pohon hingga ke puncak dan mengukurnya menggunakan tali ukur. Hasilnya menetapkan “Pedang Langit” sebagai pohon tertinggi dengan tinggi 84,1 meter.
Hingga awal 2026, tim telah menemukan sepuluh pohon Taiwania raksasa yang tingginya melebihi 70 meter. Dua di antaranya bahkan menembus 80 meter, menandakan masih banyak kandidat raksasa lain di hutan Taiwan.
Kawasan yang masih menyimpan banyak pohon raksasa
Di dekat Gunung Benya, tim juga menemukan satu hektare hutan yang berisi 11 pohon raksasa. Di sekitar Danau Hantu Besar, mereka melihat kelompok sekitar 30 pohon Taiwania yang tumbuh rapat dan masih utuh.
Taiwan sendiri memiliki 258 puncak gunung di atas 3.000 meter. Medan yang sulit dijangkau membuat sebagian besar wilayah itu tetap lestari dan masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa.
Julukan “pohon yang menyentuh bulan” dari masyarakat adat Rukai terasa semakin tepat jika melihat lokasi tumbuhnya yang terjal dan tertutup hutan lebat. Sosok ini kini menjadi simbol bahwa hutan Taiwan bukan hanya rumah bagi pohon-pohon raksasa, tetapi juga penyimpan karbon yang sangat penting bagi lingkungan.
Source: www.cnbcindonesia.com






