Pelatihan Guru Jadi Kunci, Papan Digital Interaktif Tak Boleh Berakhir Sebagai Pajangan di 3T

Program Papan Digital Interaktif disiapkan untuk masuk ke daerah 3T dengan satu syarat utama: kesiapan wilayah harus lebih dulu dibangun. Pemerintah menekankan bahwa perangkat tidak boleh dikirim lebih awal ke tempat yang belum punya listrik dan akses internet, karena tanpa dasar itu papan digital hanya akan berhenti sebagai pajangan.

Langkah ini menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan tidak bisa diperlakukan sebagai pembagian alat semata. Di wilayah yang tertinggal dari sisi akses, pemerintah memilih menyiapkan fasilitas terlebih dulu sebelum perangkat diberikan ke sekolah.

Guru jadi titik penentu

Di luar soal infrastruktur, pemerintah juga menempatkan guru sebagai unsur yang paling menentukan. Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali, menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus dirasakan semua daerah.

Arif menyampaikan pandangan itu dalam Tech and Telco Forum bertema “Building a Safer Digital Nation: From Connectivity to Cyber Resilience”. Forum tersebut menyoroti bahwa digitalisasi pendidikan membutuhkan konektivitas, keamanan, dan sumber daya manusia yang siap secara bersamaan.

Karena itu, guru di daerah 3T tidak hanya menerima perangkat. Mereka juga akan mendapat pelatihan agar papan digital interaktif benar-benar dipakai untuk proses belajar, bukan hanya dipasang di kelas.

Pemerintah menilai alat ini tidak akan efektif bila hanya diperlakukan sebagai pengganti papan tulis biasa. Arif menyebut, tanpa peningkatan kompetensi, perangkat itu hanya akan menjadi whiteboard digital, bukan smart board.

Fokus pada penggunaan di kelas

Arah program ini memang bukan sekadar distribusi teknologi. Pemerintah ingin papan digital interaktif membantu pembelajaran yang lebih hidup dan lebih mudah dipahami siswa.

Salah satu tujuan utamanya adalah mendorong proses belajar bergerak dari abstraksi menuju visualisasi. Dengan pendekatan itu, siswa diharapkan bisa melihat dan memahami proses ilmiah secara lebih konkret.

Model pembelajaran seperti ini dianggap lebih sesuai untuk materi yang membutuhkan penjelasan bertahap dan contoh yang nyata. Karena itu, program ditempatkan sebagai salah satu prioritas Kemendikdasmen dalam memperkuat pembelajaran.

Pengawasan dan percepatan distribusi

Selain pelatihan, Kemendikdasmen juga menyiapkan pengawasan terhadap guru penerima perangkat. Langkah ini dibutuhkan agar program berjalan cepat dan tidak berhenti pada tahap penyaluran alat.

Pemerintah telah melihat lebih dari 50 ribu guru untuk disebarkan ke berbagai wilayah. Dengan cara itu, percepatan bisa dilakukan tanpa harus menunggu seluruh sekitar 3 juta guru mengikuti pelatihan sekaligus.

Arif menjelaskan, jika pelatihan menunggu semua guru, strategi yang lebih lincah akan sulit berjalan. Karena itu, penguatan melalui komunitas guru dipakai sebagai salah satu jalan untuk mempercepat pemanfaatan perangkat di lapangan.

Pendekatan bertahap untuk daerah 3T

Digitalisasi pendidikan di daerah 3T tidak diperlakukan dengan pola seragam. Setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, sehingga tahapan penerapannya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

Di tempat yang belum memiliki listrik dan internet, pembangunan fasilitas dasar menjadi langkah awal. Setelah itu, barulah papan digital interaktif dapat diberikan dan digunakan secara efektif di kelas.

Pendekatan bertahap ini juga menegaskan bahwa teknologi pendidikan tidak akan bekerja sendiri tanpa dukungan infrastruktur dan kesiapan manusia. Karena itu, pemerintah menggabungkan pembangunan fasilitas, pelatihan guru, dan pengawasan pelaksanaan dalam satu rangkaian program.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait