Pelemahan Rupiah Ke Rp17.685 Bikin Harga Barang Impor Kian Rawan Naik, Warga Waswas

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah ke level Rp17.685 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa pagi langsung menjadi perhatian karena berpotensi menekan harga barang impor dan biaya kebutuhan sehari-hari. Saat mata uang domestik bergerak lebih lemah, ruang bagi pelaku usaha untuk menahan harga juga ikut menyempit.

Data pasar spot Bloomberg menunjukkan rupiah turun 17 poin atau 0,10 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS. Di pasar, pergerakan ini dibaca sebagai tanda bahwa penguatan rupiah masih sulit terjadi dalam waktu dekat.

Tekanan terhadap rupiah tidak datang dari satu sumber saja. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan dipicu gabungan sentimen dari dalam dan luar negeri yang belum juga mereda.

Di sisi eksternal, kenaikan harga minyak dunia ikut memberi beban tambahan. Sementara itu, di dalam negeri, defisit anggaran, aliran modal asing keluar dari pasar ekuitas domestik, dan kebijakan pemerintah yang ekspansif sama-sama menambah tekanan pada rupiah.

Kombinasi faktor tersebut membuat fase pelemahan rupiah berpotensi bertahan lebih lama. Selama sentimen global dan domestik belum membaik, ruang rupiah untuk bergerak kuat ke arah penguatan akan tetap terbatas.

Bagi masyarakat, dampak paling cepat biasanya terasa pada barang konsumsi dan kebutuhan produksi yang bergantung pada impor. Ketika biaya impor naik, pelaku usaha kerap menyesuaikan harga jual agar margin tetap terjaga.

Dari situ, tekanan bisa merembet ke harga barang impor, bahan baku, dan sejumlah produk turunan. Dalam kondisi seperti ini, inflasi dalam negeri juga berisiko ikut terangkat dan lebih cepat dirasakan konsumen.

Pasar memang sempat mendapat sedikit napas setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan militer ke Iran. Keputusan itu meredakan sebagian kekhawatiran pasar global dan memberi sentimen positif, meski pengaruhnya masih terbatas.

Lukman menilai rupiah masih punya peluang menguat bila ketegangan pasar global terus mereda. Namun, arah pergerakan tetap bergantung pada kekuatan sentimen luar negeri dan respons pasar terhadap kebijakan domestik.

Perhatian pasar kini juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini. Investor berharap bank sentral mengambil langkah yang mampu menahan pelemahan rupiah, termasuk lewat keputusan suku bunga acuan atau BI-Rate.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sementara itu, tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah, karena banyak mata uang Asia lain juga tertekan terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan tercatat paling lemah dengan koreksi 0,56 persen. Dolar Taiwan turun 0,19 persen, yen Jepang melemah 0,11 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen, baht Thailand turun 0,08 persen, dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,02 persen.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru