Pembalikan Medan Magnet Bumi Tak Membalikkan Rotasi, NASA Tegaskan Isu Matahari Terbit dari Barat Keliru

NASA menegaskan bahwa tidak ada dasar ilmiah untuk menyatakan Matahari akan terbit dari barat di Bumi. Lembaga itu juga menolak anggapan bahwa pembalikan medan magnet otomatis membuat rotasi planet berbalik arah.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ramainya klaim yang menyebar di media sosial dan dikaitkan dengan tanda kiamat. Narasi itu sempat terdengar meyakinkan karena dibungkus dengan istilah ilmiah, padahal inti pesannya menyesatkan.

Pembalikan medan magnet tidak sama dengan rotasi terbalik

Bettina Inclan, Associate Administrator for Communications NASA, menjelaskan bahwa pembalikan medan magnet memang pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah Bumi. Namun, peristiwa itu tidak berarti Bumi akan berputar ke arah sebaliknya.

Di titik inilah banyak orang keliru membaca fenomena ilmiah. Medan magnet dan arah rotasi planet adalah dua hal yang berbeda, sehingga pembalikan yang terjadi pada salah satunya tidak otomatis mengubah yang lain.

NASA menegaskan bahwa baik lembaganya maupun organisasi ilmiah lain tidak memprediksi Matahari akan terbit dari barat. Karena itu, klaim yang mengaitkan pembalikan medan magnet dengan perubahan arah terbit Matahari tidak punya landasan ilmiah.

Mengapa klaim seperti ini mudah menyebar

Isu kiamat dan perubahan ekstrem pada alam semesta memang sering cepat menarik perhatian di media sosial. Saat dikaitkan dengan nama besar seperti NASA, informasi semacam itu bisa tampak lebih kuat meski tidak didukung fakta yang tepat.

Masalahnya bukan pada fenomena ilmiahnya, melainkan pada cara menafsirkannya. Pembalikan medan magnet memang nyata dan menjadi bahan kajian ilmuwan di seluruh dunia, tetapi fakta itu tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa Matahari akan muncul dari arah barat di Bumi.

Contoh dari planet lain tidak bisa disamakan dengan Bumi

Secara astronomi, arah terbit Matahari yang tampak berbeda memang terjadi di planet lain. Venus menjadi contoh yang paling jelas karena planet itu berotasi ke arah belakang, sehingga Matahari tidak terbit dari timur seperti di Bumi.

Venus membutuhkan 243 hari Bumi untuk menyelesaikan satu rotasi. Sementara itu, Venus hanya memerlukan 225 hari untuk mengelilingi Matahari, sehingga jarak antara hari dan tahunnya sangat kecil.

Akibat kondisi tersebut, Matahari di Venus tampak muncul jauh lebih jarang dibanding di Bumi. Planet itu mengalami matahari terbit sekitar satu kali dalam 117 hari atau dua kali dalam setahun.

Bumi tetap berada dalam kondisi yang berbeda

Untuk Bumi, NASA menegaskan tidak ada prediksi ilmiah yang menyebut rotasi planet akan berbalik. Artinya, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa Matahari akan terbit dari barat di planet ini.

Karena itu, klaim seperti ini perlu dibaca dengan hati-hati, terutama ketika beredar dalam potongan video atau unggahan singkat. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa kondisi Venus tidak bisa langsung dipakai untuk menggambarkan keadaan Bumi.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait